Sunrise menawan di waduk mini Banjaroya Kalibawang

Setelah kami dari Kedung Kandang pada cerita sebelumnya. Hari berikutnya kamipun berburu sunrise di embung Banjaroya sesuai janjian kami. Minggu pagi 14 Februari 2016, adzan subuh belum terdengar akupun meluncur menuju Kalibawang. Jalanan masih sangat sepi. Melajukan Belalang Tempurku akupun berharap tidak ketinggalan momen sunrise di waduk mini Banjaroya. Rute yang kupilih dari Kompleks Pemkab Sleman aku mengarah ke Pangukan, lalu berturut-turut Cebongan, Seyegan, Minggir, Dekso lalu belok kanan Menuju Kalibawang. Sepanjang perjalanku tersebut aku ketar-ketir karena tripmeter menunjukkan angka 270km lebih sedangkan meter penunjuk bensin sudah tidak berfungsi. Setiap aku mengisi bensin tripmeter selalu aku reset ke nol. Dengan isi tanki hampir penuh, aku bisa sewaktu-waktu kehabisan bensin di jalan kalau sejauh ini yang sudah tertempuh. Belum ada orang menjual bensin eceran sepagi itu.

Rasa ketar-ketir seketika hilang ketika aku menemukan SPBU yang buka 24 jam utara perempatan Dekso. Dengan masih terkantuk masnya meladeni permintaanku mengiisi 50 ribu. Ternyata baru dapet 40 ribu sudah penuh… wee lhaaa…. tripmeterku error ini. Pasti angka 2 di situ seharusnya angka 1, pantesan kayaknya belum begitu lama aku terakhir isi bensin….

Perjalanan kulanjutkan ke utara, hingga di Desa Banjarharjo turunlah hujan. Aku berhenti sebentar untuk memakai celana anti air, sedangkan jaket yang kupakai kebetulan sudah anti air. Di situ adzan subuh mulai terdengar. Akupun melanjutkan perjalanan ke utara sambil mencari masjid di pinggir jalan. Aku agak ragu dengan jalan masuk yang kutemukan, karena tanpa penunjuk arah ke Suroloyo ataupun embung Banjaroya. Akupun mendengar adzan cukup keras dari masjid kecil di timur jalan. Aku bergegas ke masjid itu untuk sholat subuh.

Sesudah itu akupun beranjak melanjutkan perjalanan. Kuamati kembali pertigaan itu dan akupun membaca tulisan Rest Area Bendo ….. yap. berarti benar jalan ini. Aneh sekali kenapa tidak ada penunjuk jalan padahal merupakan obyek wisata utama di Kulon Progo.

Sunrise di Banjaroya
Pagi di Banjaroya

Jalanan mulai naik-naik, akupun terus mengikuti jalan sambil mencari figur “durian” yang menjadi ciri khas embung tersebut di kiri jalan. Sampai suatu ketika aku sampai di jalan yang cukup menanjak lalu menurun, setelah kupikir-pikir tidak mungkin embungnya ada di sini. Akupun membuka GPS di HP dan menemukan bahwasanya aku memang kebablasan kurang lebih 3 Km. Salahnya kemarin gak sempat lihat peta dulu. Padahal embungnya itu hanya 3 Km dari jalan utama Sentolo-Muntilan tadi. Akupun segera berbalik arah dan menemukan tempatnya… ha ha ha … Tadi gelap sih, jadi duriannya gak kelihatan.

Segera aku keluarkan gear untuk memfoto sunrise di situ. Aku tak sempat mensurvey lokasi, jadi ya kira-kira saja. Yang penting sunrise nampak dan embung juga nampak. Jam 5.25 jepretan pertamaku kuning jingga sudah menghiasi ufuk timur. Ah, mau ndadak kebablasen barang sih … Di situ sudah ada beberapa orang yang ingin menikmati sunrise juga.

Sunrise banjaroya
Teman-teman datang pas ketika mentari terbit

Hingga berangsur-angsur mentaripun nampak. Di sinilah saatnya fotografer harus memilih untuk menikmati keindahannya dengan mata ataukah merekamnya di kamera. Pelangipun nampak di sebelah barat, tapi kuabaikan karena aku fokus merekam matahari terbit. Sekitar jam 6 kurang seperempat teman-temanku datang, ada Noel, Diah dan Isa. Akupun terus memuaskan diri mengabadikan sunrise hingga mentari kembali tenggelam di balik awan.

Aku
Sunrise dan Gunung Lawu di kejauhan

Kamipun bergeser ke sebelah timur untuk mendapatkan view pemandangan yang lebih leluasa. Di sini kamipun berfoto dengan berbagai gaya.

full team
Full team dilatarbelakangi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu

Jam 6.25 barulah si Iwan muncul…. katanya dia harus mandi dulu. Jadinya tadi ditinggal oleh Noel. Jam segini mah suasana sudah terang benderang.

bungalow di banjaroya
Ada bungalow di kawasan Embung Banjaroya
embung
Embung berlatar belakang Pegunungan Menoreh

Dari waduk mini Banjaroya ini kita bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, juga Gunung Ungaran membentuk jajaran di sebelah timur hingga di utara. Di sebelah timur hingga tenggara nampak lembah membentang yang merupakan daerah Sleman dilatarbelakangi oleh Gunung Lawu di kejauhan. Pegunungan menoreh mengisi bentang di sebelah barat laut hingga selatan.

Seperti embung berlapis plastik lainnya, embung ini juga digunakan untuk menampung air hujan di musim penghujan yang kemudian digunakan untuk mengairi kebun buah yang ada di bawahnya di musim kemarau. Dengan kapasitas hingga 10.000 meter kubik air, embung itu diharapkan mampu mengairi kebun buah seluas 30 hektar.

Prewedding di banjaroya
Digunakan untuk photo session

Dengan pemandangan yang bagus itu, tempat ini bisa dipilih untuk menjadi spot foto prewedding.

durian menoreh kuning
“Durian” menoreh kuning sebagai simbol dari embung Banjaroya.
gerbang banjaroya
Gapura masuk Embung Banjaroya. Tulisannya sudah pudar.

Sudah lewat dari jam tujuh, rasanya masih terlalu pagi untuk langsung kembali pulang. Kamipun memutuskan untuk menuju curug di dekat situ yaitu Curug Sidoharjo, karena puncak Suroloyo sudah terlalu mainstream 😀 …. perjalanan kami bisa diikuti di cerita selanjutnya …

Rute Menuju Lokasi Waduk Mini Banjaroya

Waduk mini Banjaroya berada di Tonogoro, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, DIY. Berjarak kurang lebih 38 Km dari titik nol Yogyakarta jika ditempuh melalui jalan Godean melalui Kenteng, Nanggulan

Kota Yogya ke barat melalui jalan Godean – (20 Km) – Perempatan Kenteng, Nanggulan belok ke kanan (utara) – (±5 Km) – Perempatan Dekso terus (utara) – (±10 Km) – Rest Area Bendo belok kiri (barat) – 3 Km – Waduk Mini Banjaroya berada di kiri jalan.

Jika menggunakan rute Minggir – Dekso melalui Jembatan Kreo maka jaraknya sekitar 35 Km, tapi banyak simpangan, jadi harus orang yang paham jalan.

Koordinat:

Waduk Mini Banjaroya :  -7.658986°,110.234997°

Menikmati indahnya air terjun bertingkat Kedung Kandang

Menuju Kedung Kandang

Gunungkidul selalu menawarkan sisi-sisi indahnya. 13 Februari 2016 kami berencana mengunjugi Air Terjun Kedung Kandang di kawasan wisata Nglanggeran, Patuk. Tempatnya tidak jauh dari gunung Nglanggeran. Sekitar jam satu siang aku sudah di perjalanan. Aku melewati Berbah, kawasan lava bantal, terus ke timur hingga jalan Prambanan-Piyungan lalu berbelok ke selatan.

Perempatan Kantor Desa Srimartani
Perempatan Kantor Desa Srimartani

Iseng-iseng aku melewati jalan yang tak biasa, dari perempatan Desa Srimartani aku berbelok ke timur. Jalan ini merupakan jalan alternatif yang nantinya sampai di Ngoro-oro. Jalur ini sering disebut tanjakan petir, walaupun kurang tepat karena di Dusun Petir sendiri malah jalanan masih datar belum nanjak.

tanjakan ekstrim
Tanjakan ekstrim dan berkelok

Jika kamu berboncengan mengendarai motor yang mempunyai gir rasio yang kecil (napas panjang) tidak disarankan lewat sini. Beberapa tanjakan di sini terlalu ekstrim sehingga mungkin yang bonceng harus turun karena motornya tidak kuat menanjak. Kemiringannya di beberapa lokasi lebih dari 30% dipadukan dengan kelokan sehingga tidak bisa mengambil ancang-ancang. Di salah satu tanjakan ekstrim yang berkelok dipasangi pagar dari ban oleh masyarakat, sepertinya untuk mencegah kendaraan yang dari atas kebablasan keluar dari jalan karena menurun dan berbelok tajam.

ngoro-oro
Ngoro-oro, Desa Seribu Menara

Hingga sampailah aku di Ngoro-oro, tempat ini cukup terkenal karena merupakan tempat didirikannya semua tower pemancar televisi yang melayani area DIY dan Solo Raya. Di satu desa ini terdapat paling tidak 16 tower televisi dan BTS. Bagi yang paham, cukup mudah untuk membedakan mana yang tower televisi, mana yang BTS jaringan seluler. Perbedaannya bisa dilihat dari bentuk antenanya yang memang berbeda.

terasering ngoro-oro
Persawahan di Ngoro-oro

Sejenak aku menikmati pemandangan luar biasa ini. Di arah timur nampaklah Gungung Nglanggeran yang di bawahnya terhampar sawah dengan terasering yang memukau. Sawah-sawah ini hanya menghijau di musim penghujan karena sumber airnya hanya mengalir di musim hujan.

perempatan tawangsari
Perempatan Tawangsari, Ngoro-oro

Setelah beberapa jepretan akupun melanjutkan perjalanan ke timur. Sesampainya perempatan dusun Tawangsari akupun berbelok ke kanan mengikuti penunjuk arah Gunung Purba Nglanggeran. Setelah melewati pintu masuk Gunung Nglanggeran terus saja lalu mentok belok kiri sudah terlihat plang menuju Embung Nglanggeran dan Kedung Kandang. Ikuti jalan ke selatan sekitar 300 meter jalan menurun lalu menjumpai lapangan, setelah jembatan persis itulah jalan masuknya. Masuk ke kanan (barat) melalui jalan cor.

papan
Papan penunjuk Kedung Kandang dan nJurug Talang Purba
parkiran motor Kedung Kandang
Parkiran Motor

Sekitar 400 meter masuk dari jalan raya samapilah di tempat parkir. Tempat parkir ini dikelola oleh penduduk setempat. Dari sini jika kita ingin ke Kedung Kandang maka kita jalan ke selatan, sedangkan jika ingin ke nJurug Talang Purba maka mengikuti jalan setapak ke arah barat.

Kedung Kandang yang eksotis

jalan masuk Kedung Kandang
Jalan masuk

Sekitar jam setengah 3 akupun mulai menapaki jalan menuju air terjun. Untuk menuju air terjunnya memang cukup membuat sehat, sekitar 1 kilometer trekking.

Puncak Ngekong
Pemandangan dari Puncak Ngekong
Pemandangan air terjun dan sekitarnya dari Puncak Ngekong
Pemandangan air terjun dan sekitarnya dari Puncak Ngekong

Selepas dari perkebunan penduduk pemandangan menakjubkan langsung terbentang di depan mata. Di sinilah puncak Ngekong. Setelah memuaskan diri mengamati pemandangan dari sini akupun beranjak turun mengikuti jalan setapak.

istirahat
Terdapat bungalow untuk beristirahat

Dari kejauhan sudah nampak teman-teman yang lebih dulu datang sedang duduk-duduk di sebuah bungalow. Akupun say hi lalu menyalami mereka, sudah sekitar tiga bulan kami tak berjumpa. Setelah aku menyeka keringat dan ngobrol sebentar kamipun menuju ke lokasi air terjun Kedung Kandang yang yang tak jauh dari situ.

Air Terjun bertingkat Kedung Kandang
Air Terjun bertingkat Kedung Kandang

Air terjun Kedung Kandang membelah areal persawahan terasering membentuk pemandangan yang unik dan menarik. Batuan breksi andesit dari formasi gunung Purba Nglanggeran menjadi dasar dari air terjun bertingkat ini. Airnya mengalir secara musiman yaitu di musim penghujan saja. Airnya berasal dari sisi selatan Gunung Nglanggeran.

air terjun kedung kandang
Menapaki air terjun
kedung
Fotografernya juga difoto
selfie di Kedung Kandang
Bersiap selfie
papan di kedung kandang
Papan penunjuk dan peringatan

Berhubung lokasi ini cukup jauh dari parkiran, maka pengunjung disarankan untuk berada di Air Terjun hanya sampai jam 5 sore.

berfoto bersama
Full Team
jelajah bumi
Fotograferpun harus bergaya juga
debit air kedung kandang
Debit airnya sedang

Kali ini memang sengaja kami mengunjungi air terjun, karena biasanya pada musim penghujan begini akan menunjukkan keelokannya secara maksimal.

terasering
Persawahan terasering menghiasi pemandangan
bebatuan purba
Bebatuan purba

Setelah puas berfoto dengan banyak gaya (walaupun sebenarnya belum puas), kamipun harus meninggalkan lokasi karena waktu sudah menunjukkan jam setengah lima. Jalan untuk kembali berbeda dengan jalan turun. Oleh plang penunjuk kita diarahkan untuk melewati sisi barat air terjun lalu mendaki. Dari jalur ini kita masih bisa menikmati pemandangan menakjubkan bebatuan dan persawahan.

jembatan
Melalui Jembatan

Setelah melalui jalan setapak berkelok dan sebuah jembatan bambu kamipun sampai kembali di areal parkiran. Kamipun beristirahat duduk-duduk untuk melepas lelah.

mbakso
mbakso dulu

Sekitar jam setengah enam kamipun beranjak pulang. Kali ini kami mampir makan di warung bakso di seputaran Sambipitu. Kamipun janjian esok hari akan menuju ke Embung Banjaroya untuk berburu sunrise. Nantikan cerita seru kami selanjutnya.

RUTE Menuju Lokasi Kedung Kandang

Kedung Kandang berada di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Untuk mencapainya dari Kota jogja ada beberapa jalur yang bisa dipilih:

Via Ngoro-oro (±27 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk Ke Kiri – (7,5 Km) – Perempatan Tawangsari Ngoro-oro ke kanan – (1 Km) – Pintu masuk Gunung Nglanggeran terus – (300 m) – Pertigaan ke kiri – (100 m) – Jalan masuk Embung Nglanggeran ke kanan – (300 m) – Jalan masuk Kedung Kandang di kanan – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Via Kantor Desa Nglanggeran (±26 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk terus – (2,5 Km) – Persimpangan Sebelum Jembatan Sungai Pentung Ambil Lajur kiri lalu ikuti jalan yang kiri – (1 Km) – Pertigaan Karangsari Ada plang Nglanggeran belok kiri – (4 Km) – Pertigaan terus – (100 m) – Jalan masuk Embung Nglanggeran ke kanan – (300 m) – Jalan masuk Kedung Kandang di kanan – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Via Sambipitu (±30 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk terus – (8,5 Km) – Persimpangan Sambiptu masuk lalu belok kiri jalan menurun ke utara – (3,5 Km) – Jalan masuk Kedung Kandang di kiri – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Tiket Masuk

Per Februari 2016
Parkir motor: Rp 2.000
Retribusi per orang: Rp 5.000

Koordinat:

Air terjun Kedung Kandang:  -7.855537°,110.535104°

Parkiran Kedung Kandang:  -7.851531°,110.535475°

Perempatan Srimartani:  -7.824823°,110.479381°

Menengok Pesona Telaga Biru Semin

Tiba-tiba saja foto-foto Telaga Biru Semin bertebaran di timeline. Tempat ini diklaim mirip Raja Ampat (ah, tenane?) ataupun mirip telaga warna dieng (kalau ini lebih make sense). Akupun tergerak untuk ke sana juga. Hari itu (4 Feb 2016) akupun memantapkan diri pergi ke sana.

Kupat Tahu
Seporsi Kupat Tahu yang Nikmat

Diawali dengan mengisi perut dengan seporsi kupat tahu di dekat buk bengkong Jakal km 12,5. Setelah melahap lezatnya makan siangku akupun beranjak menyusuri Jalan Jangkang. Waktu menunjukkan hampir jam dua siang. Kususuri jalan itu hingga berganti provinsi, Jawa Tengah. Di pertigaan Manisrenggo aku mengambil jalan ke kanan menuju arah Prambanan, lalu belok kiri di pertigaan mengikuti jalan truk pasir. Jalan ini sudah dicor semen sepertinya untuk mengimbangi beban truk pasir yang demikian hebatnya. Namun aku keliru, ternyata belum semua dicor sehingga jalannya justru rusak parahhhhh!! nggronjal abis. Mana kaca helemku agak longgar, jadi tiap ada gronjalan kaca langsung otomatis nutup. Kalo kacanya kinclong sih gapapa, lha ini sudah burem baret-baret jadi pandangan agak terganggu kalau ditutup. Tiap gronjal jeglek nutup, trus buka lagi, nutup lagi … begitu terus… hedeh! kepala udah dimiringkan untuk mengurangi efek otomatis nutup.. tetepp ajah nutup sendiri… wkwkwkwk

Singkat cerita, setelah melalui beberapa kelokan dan entah berapa gronjalan sampai juga aku di Jalan Jogja-Solo. Belalang tempur kuarahkan ke timur melalui Pabrik Gula Gondang, lalu sesampainya di pertigaan Bendogantungan akupun berbelok ke kanan menuju Wedi.

Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya
Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya

Terhenti sebentar di persimpangan kereta api karena ada kereta api prameks yang lewat. Heran dengan para pengguna motor, banyak yang tidak taat aturan dengan menunggu di lajur kanan. Setelah melewati pasar Wedi, terlihat Masjid Agung Wedi, dari sini akupun berbelok ke kiri ke arah timur menuju Bayat.

sawah
Persawahan di Wedi Klaten

Di tepi jalan akupun berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sawah dan pegunungan di kejauhan. Setelah itu perjalanan aku teruskan melewati Bayat hingga sampailah ke Cawas.

Pertigaan Cawas
Pertigaan Cawas

Dari pertigaan Cawas ambil ke kanan, sesuai dengan petunjuk arah Gunung Kidul dan Wonogiri.

Pertigaan Bulu Cawas
Di Pertigaan Bulu, Nanggulan, Cawas. Ke kanan menuju pusat Kecamatan Semin lurus menuju Watukelir dan Wonogiri.

Hingga sampai pertigaan Nglengkong akupun mengambil jalan ke kiri ke arah timur, karena jika lurus akan mengarah ke Ngawen. Lalu sampai pada pertigaan Bulu. Dari sini jangan menuju Semin, karena jika kita akan ke Telaga Biru tapi di sini belok ke kanan maka justru akan jauh memutar dan naik turun gunung. Meskipun sama-sama di kecamatan Semin, justru ambillah arah lurus ke timur (menuju Wonogiri) karena merupakan jalan paling dekat dan tidak pakai naik gunung dulu, Telaga Biru berada di ujung Timur Laut dari kecamatan Semin.

pertigaan krendetan
Pertigaan Krendetan

Hingga sekitar 6 kilometer ke timur sampailah di Krendetan, ada pertigaan dengan tugu tulisan Rilex belok ke kanan.

Jalan Masuk
Jalan masuk mirip simpang lima.

Tidak sampai satu kilometer ke selatan sampailah di pintu masuk dusung Ngentak, tepat di jalan yang menikung ke kanan. Di gapura ini sudah dipajang spanduk besar penunjuk arah menuju Telaga Biru. Kita bisa masuk melewati dusun Karangjoho yang jalannya sudah cor beton (gapura warna hijau), tapi boleh juga mengikuti penunjuk arah dusun Ngentak (gapura warna biru) karena pas langsung ke parkiran meskipun jalannya masih berbatu.

Gapura Ngentak
Gapura Dusun Ngentak
parkiran
Parkiran Telaga Biru

Akupun menyusuri jalan berbatu itu, lalu belok kiri dan langsung disambut oleh mas-mas petugas parkir dari Karang Taruna dusun Ngentak. Jam 4 sore aku sampai di parkiran.

plang
Plang di dekat parkiran

Dari parkiran akupun berjalan mengikuti petunjuk arah. Tidak berapa jauh sampailah aku di lokasi puncak telaga biru.

IMG_8019

Dan WOW di sinilah aku melihat pemandangan yang elok. Dan tempat ini sungguh ramai oleh para muda-mudi membawa tongkat swafoto. Tak ada satu frame yang bisa diambil tanpa ada orang.

bermain air di telaga biru
Bisa bermain air

Di bawah sana banyak orang bermain air. Ada yang menggunakan gethek (rakit bambu) ada pula yang memakai perahu karet berwujud kuda sembrani ada yang cuma nyebur aja renang gak jelas.

di puncak
Menunggu surya tenggelam
Diselingi rintik hujan
Diselingi rintik hujan

Puncak ini menghadap ke barat sehingga sunset akan jelas terlihat jika memang sunset terlihat. Di sisi barat hingga selatan nampak pegunungan Gunungkidul dengan puncak Tugu Magir-nya yang cukup jelas terlihat. Di sebelah barat laut jika cuaca cerah akan nampak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, namun sayang kali ini aku hanya melihatnya sesekali mengintip dari balik awan.

hati-hati
Berhati-hati jika di tepian
Banyak juga yang berfoto di tepi telaga

Akupun berfoto dengan berbagai gaya. Namun harus tetap hati-hati. Untungnya aku masih bisa merasa singunen jadi cukup aman …. he he he

tambang
Tambang batu gamping masih aktif
batu gamping
Bongkahan batu gamping siap diangkut

Telaga yang terbentuk merupakan sisa penambangan batu gamping. Pada suatu waktu air terperangkap di sana hingga terbentuklah telaga. Tempat ini masih aktif ditambang, jadi jangan heran jika nantinya kamu akan mendapati tempat ini akan berubah bentuknya.

ujung jurang
Cocok untuk berkontemplasi

Cukup lama aku di sini, rasanya tidak ingin pulang saja. Tempat ini mengingatkanku akan bukit kapur di sekitaran Trimulyo, Jetis, Bantul karena suasananya yang mirip, hanya saja di sana belum terbentuk telaga di bawah. Dan pikirankupun melayang kala masih bahagia bersamanya menikmati tenggelamnya mentari di sana …… ssssssssssst … hapuskan dari pikiran!

Suasananya yang mendung membuat langit kurang menarik untuk dijepret. Jikalau musim kemarau pasti mentari akan terlihat lebih cantik. Namun entah jika musim kemarau apakah telaganya mengering atau tidak.

Hingga waktu terus bergulir, tak terasa waktu sudah jam enam kurang seperempat. Meskipun mentari belum tenggelam namun sunset sepertinya tak mungkin terlihat dengan bagus akupun beranjak pulang. Di parkiran sempat-sempatnya mas-nya penjaga parkir bertanya, “Kok sendirian mas?” Akupun menjawab sekenanya, “Nggak ada temennya!” Which is obvious :p

Motor kukendarai pulang. Hujanpun mengguyur meskipun tidak begitu deras. Perutpun lapar dan aku mampir di Cawas untuk makan.

Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci
Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci

Nila bakar dan teh poci sungguh sempurna suasana dan rasanya. Akupun disapa seseorang mas-mas yang tertarik dengan kameraku. Kamipun ngobrol dan ternyata dia bekerja di sebuah bank pemerintah di Papua dan kebetulan sedang mudik. Diapun asyik menceritakan kisahnya dan akupun tak sengaja menceritakan kisahku juga. Nila tinggal tulang-belulang dan teh di poci-pun sudah kosong dan akupun kemudian pulang membawa kenangan …….

Rute Menuju Lokasi Telaga Biru Semin

Telaga biru semin berada di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Semin, Gunungkidul. Untuk mencapainya dari Kota jogja ada beberapa jalur yang bisa dipilih.

Via Cawas: ±57 km

Kota Jogja – Jalan Solo – Prambanan – Wedi – Bayat – Cawas – Nanggulan – Krendetan – Ngentak.
Jalan datar mulus, ada sedikit jalan rusak ringan di jalan kabupaten. Melalui jalan negara (Jogja-Solo), Jalan Kabupaten (Wedi-Cawas) dan Jalan Provinsi (Cawas – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Nglipar: ±61 Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Nglipar – Ngawen – Semin – Krajan – Ngentak.
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Sambipitu – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Wonosari : ±69Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Wonosari – Karangmojo – Semin – Krajan – Ngentak
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Wonosari – gapura masuk dusun Ngentak).

Koordinat:

Parkiran Telaga Biru: -7.813966°,110.765601°

Pertigaan Cawas: -7.763007°,110.698378°

Menuju Puncak Bucu

Hari itu, 8 November 2015, berawal dari sebuah postingan di group Pitnik, kami berencana untuk bersepeda di sekitar piyungan. Pagi hari sekitar jam 6 aku sudah meluncur dari rumah menuju titik kumpul yaitu rumah Bu Nany di seputaran Desa Jambidan Banguntapan. Sampai di rumah Bu Nany sekitar jam 7. Kami harus menunggu Alif yang sedang membantu orang tuanya. Lumayan lama kami menunggu hingga satu jam lebih barulah Alif menunjukkan batang hidungnya.

di depan rumah bu Nany
Bersiap untuk berangkat.

Setelah melahap sarapan yang sudah disiapkan Bu Nany segera saja kami bersiap berangkat. Bu Nany membawakan kami snack dan satu botol teh yang dimasukkan ke tas pannierku. Kamipun sepakat untuk menuju puncak Bucu, tidak begitu jauh dari situ. Perjalanan dimulai dengan mengarahkan laju sepeda ke timur lalu mengikuti jalan menuju dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan. Dari Ngablak kami berbelok ke utara mengukuti jalan besar menuju dusun Banyakan, lalu berbelok ke kanan memasuki kampung lalu menyusuri jalan di tepi sawah. Tidak begitu lama kami bertemu dengan perbukitan.

di salah satu tikungan
Melalui tanjakan berkelok
terus naik
Di jalan yang terus naik.

Perjalanan ini cukup berat, aku lebih sering menuntun sepeda karena sepedaku memang tidak dirancang untuk mampu menaiki jalanan securam ini dengan dikendarai. Alif yang berjiwa muda dan memakai sepeda gunung tetap mengowes sepedanya dan berada paling depan. Sedangkan Bu Nany sepertinya kepayahan, jadi harus menuntun sepedanya juga seperti aku.

jalanan berliku
Hampir sampai ujung tanjakan.

Sekitar satu kilometer sampailah kami di ujung tanjakan. Kamipun istirahat di gardu ronda. Kitapun sempat membeli es mambo dan memakannya di situ. Cukup menyejukkan di siang yang panas itu. Cuaca mulai sedikit mendung kamipun mulai mengayuh sepeda lagi. Kini jalanan tidak menanjak lagi, hanya sedikit turun naik.

prasasti
BUMI WISATA PERKEMAHAN & OLAH RAGA
jalan setapak
Mulai melalui jalan setapak.
memasuki jalan setapak
Jalan setapak masih bisa dilalui menggunakan sepeda
melibas jalan setapak
Alif masih mampu mengendarai sepedanya di track ini.

Hingga akhirnya sekitar jam 11 kami sampai di areal puncak bucu. Kami datang dari arah selatan. Dari prasasti yang ada di situ, ternyata tempat itu merupakan bumi perkemahan yang diresmikan pada tahun 2004. Puncak Bucu sendiri baru saja populer beberapa bulan terakhir. Tulisan PUNCAK BUCU -pun tahun kemarin belum ada.

Kamipun melalui jalan setapak untuk menuju ke puncak Bucu. Sepeda harus sedikit diangkat karena tidak semua bisa dilalui dengan dikendarai.

di puncak bucu
PUNCAK BUCU

Tujuan pertama adatah tulisan PUNCAK BUCU. Tulisan ini berada di sisi timur Puncak Bucu. Seperti biasa foto-foto adalah hal wajib. Akupun membuka tas pannier dan mendapati air teh yang tadi dibawa dari rumah Bu Nany ternyata bocor dan membasahi isi tasku. Wah! Ternyata jika diletakkan miring masih ada kemungkinan untuk bocor. Memang sebaiknya kalau membawa botol tetap dalam posisi tegak untuk mengurangi resiko kebocoran yang berasal dari tutupnya.
Saat itu pula aku melihat tasku agak robek.. waduuh!

pemandangan dari atas puncak bucu
Kami sampai juga di sini.
di atas puncak bucu
Berlatar pemandangan daerah Piyungan

Selesai dari tulisan PUNCAK BUCU, kami bergeser ke sisi barat. Di posisi ini kita bisa melihat hamparan luas Yogyakarta di sebelah barat. Hujan rintikpun sesekali datang, memaksa kami untuk tidak berlama-lama di tempat itu.

jalan masuk bucu
Jalan masuk Puncak Bucu dari sisi timur.

Kamipun berencana melalui jalan lain, kali ini jalan di sebelah timur Puncak Bucu. Dimulai dari jalan makadam, kamipun bertemu dengan pintu masuk sebelah timur yang berupa tangga berundak.

jalan turun yang tak layak
Melalui jalan yang rusak parah.

Kemudian jalan mulai menurun. Jalan ini memang sungguh tidak manusiawi. Sepertinya hanya pantas untuk sepeda downhill. Kamipun harus menuntun sepeda hingga sampai perkampungan beberapa ratus meter jaraknya. Hujan mulai jatuh titik demi titik dan kian deras. Hingga akhirnya kamipun berhenti di sebuah gardu ronda untuk nunut ngeyup.

nunut ngeyup
Menunggu hujan reda.
tas pannierku robek
Tas pannierku robek.

Ternyata kudapati tas pannierku robek parah. Robekan sedikit yang aku dapati di puncak tadi ternyata sudah melebar. Mungkin karena jalannya nggronjal maka membuat sobeknya kian parah. Kamipun berteduh cukup lama di tempat ini sekitar satu jam.

di bawah puncak bucu
Dari sisi barat Puncak Bucu. Terlihat puncak bucu di belakang.

Hingga hujan mulai reda kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah makan mi Ayam di dekat jembatan Ngablak kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Koordinat:

Puncak Bucu :  -7.861605°,110.442977°

Pitnik Hari Pahlawan Napak Tilas Jendral Soedirman: TMP Kusumanegara & Goa Selarong

Hari minggu, 1 November 2015, jam 5 pagi aku meluncur menyusuri dinginnya jalanan. Hari itu merupakan agenda rutin Gowes Miggu Wage komunitas Pitnik Jogja yang disesuaikan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Start di timur Balai Kota
Berkumpul di timur Balai Kota Yogyakarta

Sekitar jam enam kurang seperempat aku sampai di titik kumpul yaitu di sebelah timur balai kota yogyakarta. Di situ sudah ada banyak orang berkumpul. Sambil menunggu yang lain kamipun bercengkrama hingga jam enam seperempat saatnya kami bersiap untuk berangkat. Dari balaikota kami menyusuri jalan Kusuma Negara, hingga sampai di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) kami berbelok ke kiri menuju pintu masuknnya.

gerbang TMP kusuma negara
Gerbang di sisi selatan Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara

Suasana masih sepi, gerbang selatan TMP masih tertutup dan waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Kamipun mendatangi penjaga dan segera gerbangpun dibukakan. Kami semua mulai memasuki area TMP. Sebagian besar dari kami baru pertama kali ini masuk ke TMP Kusuma Negara.

mulai membentuk barisan
Ketika memasuki taman makam pahlawan kita diharuskan melakukan penghormatan. Di sini kami mulai membentuk barisan tiga bersaf.

Saat masuk ke TMP ini kita diharuskan berbaris lalu melakukan penghormatan. Mungkin di TMP yang lain juga begitu. Setelah melakukan penghormatan kamipun bergeser menuju makam Jendral Soedirman.

Menabur bunga di pusara Jendral Soedirman. Photo Credit: Trijono Santoso
Menabur bunga di pusara Jendral Soedirman.
Photo Credit: Trijono Santoso

Kemudian kamipun berdoa di depan makam Jendral Soedirman. Setelah selesai berdoa tak lupa menaburkan bunga di pusara.

di dalam area TMP kusuma negara
Berpose di tengah Taman Makam Pahlawan

Acara inti di TMP sudah selesai, kemudian seperti biasa ada sesi foro-foto.

di sini terpampang nama-nama pahlawan
Nama-nama pahlawan terpampang di sini

Setelah puas berfoto kamipun mulai beranjak ke tujuan berikutnya yaitu Goa Selarong. Dari TMP kami menyusuru jalan ke selatan hingga bertemu dengan jalan Batikan (Kali Mambu) dan terus saja hingga Jalan Menteri Supeno.Perjalanan kami cukup santai, tidak tergesa karena memang untuk bersenang senang. Kemudian kami berbelok ke arah barat beberapa kilometer hingga sampai Jl. Bugisan. Kemudian kani ke selatan melalui Kantor Kecamatan Kasihan lalu berbelok ke barat dan terus menyusuri jalan menuju Selarong.

sekitar kasongan
Istirahat sejenak

Sampai di perempatan Desa Bangunjiwo kami istirahat sejenak sambil menunggu teman yang tercecer. Cuaca sudah mulai panas dan waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Setelah beberapa saat kamipun kembali mengayuh sepeda menuju Goa Selarong. Setiba di sana kami memarkirkan sepeda di dekat lapangan. Suasana sudah mulai ramai.

di depan blankon raksasa
Di depan blangkon raksasa

Waktu menunjukkan jam setengah sembilan. Karena kirab belum sampai lokasi, mereka masih berjalan, maka kami foto2 di depan blangkon raksasa yang berada di sekitar pintu masuk. Blangkon itu katanya tercatat di MURI sebagai blangkon terbesar dengan ukuran keliling 17,40 meter, tinggi 4 meter, panjang 6,88 meter dan lebar 5,65 meter. Setelah berfoto dengan berbagai pose kamipun menuju ke areal goa selarong yang tidak jauh dari situ.

prasasti
Sebuah Prasasti
dhuwet
Buah Duwet (Jamblang) . Sering juga disebut anggur jawa.
ceplukan
Buah ceplukan

tangga naik menuju goa

Tangga naik menuju lokasi goa

Di sana banyak yang jual buah-buahan seperti sawo, duwet, ceplukan, dan buah-buahan lain. Aku sempatkan membeli buah duwet dua ribu rupiah, cukup untuk menuntaskan kerinduan akan rasanya, maklum sudah lama sekali tak merasakan buah duwet. Kemudian akupun menapaki tangga menuju lokasi goa yg lumayan tinggi.

di depan goa lanang
Di depan Goa Kakung

di depan goa

Di depan Goa Putri

goa kakung
Goa Kakung yang berupa cerukan

Kamipun memuaskan diri berfoto di depan goa. Goanya kecil, hanya sebuah cerukan. Etah bagaimana dulu pangeran Diponegoro dan juga Jendral Soedirman bisa bersembunyi di sini. Mungkin pemimpinnya aja yg di dalam goa, pasukannya di luar.

membeli buah-buahan
Beli buah-buahan sebelum pulang

Jam sembilan lebih sedikit kamipun mulai kembali turun. Iring-iringan kirab-pun mulai berdatangan.

mandhegani gunungan
Kirab. seseorang mandhegani iring-iringan gunungan.
wanita cantik dalam barisan
Kirab. Diwarnai dengan wanita-wanita muda yang cantik
Ibu-ibu membawa sayur mayur
Kirab. Ibu-ibu membawa sayur mayur
berbaris mengiringi gunungan
Kirab. Prajurit berbaris.

Di antara kirab itu kamipun pulang melawan arusnya. Sepeda harus dituntun karena ramainya jalan. Karena sibuknya aku foto-foto tak terasa semua meninggalkanku. teman-teman sudah tidak kelihatan di depan. Setelah menembus arus kirab itu hingga sampai di gapura goa slarong aku berbelok ke kiri, lepas dari iring-iringan kirab yang berasal dari arah kanan.

Makan siang di dekat pasar Niten. Photo Credit: Ajix Aing
Makan siang di dekat pasar Niten.
Photo Credit: Ajix Aing

Akupun mengayuh sepeda sendiri pelan-pelan menikmati suasana. sampai di jalan Bantul aku mampir untuk membeli soto, mengisi perut yang sudah lapar. Hingga suatu ketika mas Ajix lewat dan aku melambai ke arahnya dari dalam warung. “Weh.. tadi kan aku paling belakang, kok mereka di belakangku”, pikirku. Setelah selesai makan akupun kembali melanjutkan perjalanan pulang, hingga sampai di sekitar pasar Niten aku diawe-awe orang dari suatu warung. Ternyata mereka rombongan teman2ku tadi yang sedang makan di warung. Usut punya usut sesampainya di gapura Selarong tadi mereka belok ke kanan dan terus melawan arus kirab untuk melihat kirab secara keseluruhan. Makanya aku jadi di depan mereka, haha.

vespa nyungsep
Vespa Nyungsep, Aku dan Sepeda Recumbent

Hampir tengah hari, cuaca panas sekali. Bulan november tanpa awan dan hujan memang sungguh hebat panasnya. Kami mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing. Di jalan kamipun mulai mrithili satu demi satu mengambil jalan masing-masing. Aku malah bareng dua personil Jogja Folding Bike yang juga pulang dari jembatan sesek kali progo. Hingga sampai di teteg sepur Malioboro akupun mengambil jalanku sendiri ke utara, menyusuri jalan Mangkubumi dari selatan. Tak lupa untuk sejenak berfoto vespa nyungsep, sebuah obyek dalam Jogja Street Sculpture Project. Kemudian akupun mengayuh sepedaku lagi, masih sebelas kilometer menuju rumah.

Koordinat:
Gerbang selatan TMP Kusumanegara : -7.803274,110.383874
Pintu masuk Goa Selarong : -7.863423, 110.316224

Camping di Bukit Kosakora

Hari itu, sabtu 26 September 2015, kami alumni JMR (Jomblo Mendaki Rinjani) berencana camping di bukit kosakora. Yak, sebuah bukit di sebelah Pantai Ngrumput yang sedang naik daun itu. Setahuku Pantai Ngrumput ini juga bernama Pantai Pengilon. Aku sendiri pernah lewat tempat itu, ya hanya sekedar lewat ketika susur pantai dan waktu itu belum dikenal istilah bukit kosakora.

Kelompok pertama berangkat siang/sore hari agar bisa booking tempat. Aku rencana awalnya ikut yang kloter pertama, namun karena belum siap sehingga harus ikut kelompok kedua. Skitar jam 6 petang Widi tiba di rumahku, barang bawaan kumasukkan ke bagasi mobilnya lalu kitapun berangkat ke kosan Willy di sebelah utara Candi Gebang. Di sana sudah menunggu juga Latus dan Rini. Sekitar jam setengah 8 kami berlima beranjak menuju Pantai tersebut. Ketika di perjalanan Willy “diinterogasi” oleh dua orang psikolog cantik kita, sepertinya mereka layak menjadi interrogator handal. Widi-pun juga dipaksa menceritakan kisah cintanya yang kandas. Aku sendiri bisa lolos dari interogasi karena mereka sepertinya sudah muak mendengar ceritaku …. wkkkkk … tapi sayangnya kita gagal menginterogasi balik kepada dua psikolog ini, padahal aku sendiri yakin kisah mereka juga sangat “menarik”… mana ada cewe mendekati tigapuluhan gapunya kisah cinta seru.

Sekitar jam 10 malam kami sampai di parkiran. Lalu kamipun berjalan melalui tepi ladang untuk menuju ke lokasi. Di perjalanan menuju lokasi kami disambut oleh Bayu dan Nanda yang sepertinya girang sekali kami datang … wkwkwkww. Sampai di bukit kosakora lalu kami segera membangun tenda. Kami berkenalan dengan dua orang teman Bayu yaitu Ali dan Nisa. Setelah itu kami makan nasi padang yang telah kami beli sebelumnya tadi ketika di perjalanan.

curhat kosakora
Asyiknya curhat di malam hari

Kamipun bergeser ke tepi dimana kita bisa melihat pantai dengan leluasa. cahaya bulan yang hampir purnama menyembul dari balik awan membuat suasana temaram yang sangat cocok untuk mengeluarkan isi hati. Curhatan Nanda lama banget hingga lewat tengah malam. para personel-pun pada balik ke tenda dan menyisakan kami berempat. Dan akupun mendengarkan kisah cinta Nisa si calon dokter cantik…. agak aneh gak sih, baru kenal udah denger cerita begituan? wkkkkkk … Curhatan sempat terpotong karena ada orang lokal yang mendatangi kami untuk menagih camp fee sebesar Rp 20.000 per tenda.

curhat malam-malam
Sudah dini hari curhat juga belum usai

Malam semakin larut dan tiba giliran Bayu bercerita. wah ternyataaaaa! hampir jam 3 kamipun balik ke tenda untuk tidur.

olah raga
Bangun pagi, olahraga dikit

Pagi hari lewat jam 7 aku membuat sarapan mi instan sekedar untuk mengganjal perut… sial bener nih anak2 gak ada yg mau bantuin.

di atas kosakora
Wefie di bukit kosakora
hop kosakora
Jump!

Sebelum membongkar tenda kamipun bergeser ke tepi tebing untuk memuaskan berfoto-foto. Setelah tenda terlipat dan barang-barang masuk tas, kamipun menuruni bukit kosakora dan menuju pantai Ngrumput.

bermain pasir
Niatnya untuk mengubur si Bayu

Di pantai kami melakukan aktifitas layaknya orang ke pantai, mainan ombak, mainan pasir … apalah. Tak lupa mengubur Bayu yang ultah hari itu di pasir.

di pantai ngrumput
All crew di pantai ngrumput

Setelah puas bermain hingga hampir tengah hari kamipun bersih-bersih diri lalu beranjak dari pantai.

jajan di baron
Makan dulu ya sodara-sodara

Lepas dari pantai Ngrumput kami menuju pantai Baron untuk makan siang dan sholat. Akhirnya Bayu yg sdg ultahpun membayari makanan kami siang itu… makasih bay… semoga segera beres masalahmu.

jembatan dodogan
Di atas jembatan Dodogan

Selepas Baron rombongan kami terpisah. Kendaraan kami arahkan melalui JJLS. Dari Playen kendaraan kami arahkan menuju Dlingo biar bisa mampir di Jembatan Dodogan, jembatan dengan pemandangan eksotis lembah sungai Oya yg dulu pernah beberapa kali jadi setting untuk FTV. Setelah sampai Piyungan kamipun berbelok ke utara. karena hari masih siang kami berencana mengunjungi satu tempat wisata. rencana ke museum Ullen Sentalu kami batalkan karena hari sudah lewat asar, padahal dari info yg kami dapatkan museum tersebut tutup jam 15.30. Akhirnya kami membelokkan kendaraan ke arah Candi Ijo.

candi ijo
Candi ijo
candi ijo yang ramai
Ramainya Candi Ijo oleh para penikmat sunset

Candi yang berada di Gumuk Ijo ini kini menjadi favorit untuk menikmati sunset. Suasana sangat ramai. berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu ketika aku ke tempat ini. Setelah berfoto dengan berbagai gaya menakjubkan kamipun beranjak pulang sekitar jam 5 sore….

Satu pertanyaan yang belum terjawab : “Sampai kapan ya kita bisa kumpul bareng seperti ini?”

Koordinat
Parkiran Bukit Kosakora dan Pantai Ngrumput : -8.136859, 110.582927
Jembatan Dodogan :  -7.925205, 110.491270
Candi Ijo :  -7.783762, 110.511985

langkah demi langkah

langkah demi langkah

menapaki bumi langkah demi langkah
menyusuri padang ilalang hingga gunung menjulang
dalam hidup yang tanpa tujuan
aku terus melangkah meskipun lelah
meski sakit di dada masih bersemayam
karena sama saja sakitnya jikalau berdiam
dan aku terus melangkah berharap temukan seseorang
yang menawarkan secangkir minuman

sekedar pelepas dahaga dalam kerontangnya kehidupan
atau seseorang yang berjalan bersama, menggila bersama
dan ku kan titipkan separuh hatiku padanya

Bike Camping Pantai Selatan Bantul

22 September 2015 aku berniat untuk Camping di Pantai. Pantai yang menjadi tujuanku ini berada di sebelah barat pantai Goa Cemara, tepatnya di perbatasan antara kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan Bantul. Aku pilih tempat itu karena sepi tidak ada bangunan dan cukup ideal untuk membangun tenda karena teduh oleh pohon cemara.

Perjalanan kali ini dimulai siang hari, meskipun sebenarnya rencana berangkat pagi. Hari itu ada beberapa hal yang mesti diurus dulu, dan ketika sudah siap berangkat ternyata aku menemukan bahwa frame di bagian bawah jok sepeda hampir patah sehingga harus dilas dulu. Sekitar setengah dua siang aku mulai berangkat ke timur menuju jalan kaliurang. tak lupa mampir dulu ke JNE candi lalu ke selatan menyusuri jalan kaliurang dan mampir juga ke Kantor Pos Dayu untuk kirim paket. kemudian kuarahkan sepedaku melalui jalan Monjali. aku berniat membelah kota.

sepeda dan tugu jogja
Berfoto di tugu pal putih Jogja

Ketika sampai tugu kuberanikan diri untuk mengambil foto. maklum aku belum pernah foto di sini dengan sepedaku. bahkan setelah diingat-ingat aku terakhir berfoto disini sebelum era camera digital, waktu area tugu belum dipercantik, waktu belum menjadi arena foto2 banyak orang … ha ha ha… setelah itu aku terus ke selatan menyusuri Jl Mangkubumi.

di depan stasiun tugu
Menunggu kereta lewat

Berhenti sejenak di perlintasan kereta untuk sekedar foto dan melihat kereta yang melintas. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl Malioboro dan Jl A. Yani. Baru kali ini aku menyusuri malioboro bersepeda recumbent … waah nikmatnya… 😀

di sekitar nol kilometer
Orang-orangpun gumun

Dari titik nol aku ke kanan menuju Ngabean lalu berbelok ke kiri hingga ketemu jalan Bantul. Di jalan bantul tinggal lurus saja ke selatan…

istirahat sejenak
Sudah sore

Sekitar jam 4 sore aku sampai di sekitar kota bantul, niat untuk foto-foto di alun-alun bantul aku urungkan karena hari sudah sore, takut gak bisa nyunset di pantai. Hampir jam 5 sore akupun belum sampai di wilayah kecamatan Sanden.

aku dan tenggelamnya mentari
Menikmati tenggelamnya mentari …. jika saja bersamamu

Niat hati ingin bisa mengejar sunset di pantai namun apa daya. sekitar 5 km dari pantai tujuan waktu sudah lewat dari pukul 5 sore. Mentari sudah hampir tenggelam jika dikalkulasi takkan cukup waktu untuk mengabadikan sunset di pantai. Di bulak sebelum jembatan merah itulah aku menghentikan sepedaku untuk berfoto dalam suasana sunset.

Setelah mentari benar-benar tenggelam perjalanan kulanjutkan. Di dusun Karanganyar, Sanden aku mampir di masjid untuk solat maghrib dan mengisi air untuk bekal nanti memasak. Perjalananpun dilalui dalam gulita. Aku menuju arah Pantai Pandansari, lalu berbelok ke barat ke arah Pantai Goa Cemara, di situ aku masih ke barat hingga aku sampai di perempatan. Dulu sebelum JJLS dibangun ini merupakan pertigaan, sedangkan jalan yang ke barat merupakan jalan yang baru. Dari perempatan ini belok ke selatan lurus saja hingga keluar dari jalan aspal dan sampailah aku di pantai yang kutuju. Aku tak tahu ini namanya pantai apa, sepertinya memang tidak dinamai. aku dulu pertama ke sini sebelum ada istilah Pantai Goa Cemara, hanya ada Pandansari di sebelah timur dan Pandansimo di sebelah barat.

memasak air
Memasak sebelum tidur

Pantainya sangat lengang…. hanya ada suara angin, ranting cemara yang saling beradu dan deburan ombak pantai selatan. benar-benar sepi tak ada orang ataupun bangunan, cukup menakutkan memang. Di spot yang cukup ideal kudirikan tenda. sesudah itu memasak untuk makan dan minum. ketika malam sudah cukup akhirnya akupun merebahkan diri untuk istirahat.

sarapan sendiri
Sarapan dengan macaroni dan secangkir kopi panas
sepedaku menggapai ujung selatan
the Lone rider

Pagi sebelum mentari terbit kusempatkan berfoto sekitar tenda sambil memasak sarapan. Setelah selesai sarapan aku pun menuju bibir pantai untuk memuaskan diri berfoto dengan sepedaku dan sunrise. Suasana pagi itu cukup hazy, di langit terdapat awan yang hampir merata sehingga menghalangi birunya langit. Titik-titik air asin terbawa angin menyebabkan suasana layaknya kabut tipis, cukup menghalangi kamera untuk merekam dengan jelas. Saat itu ada beberapa orang datang menikmati sunrise di pantai itu juga.

jalan srandakan
Sampai di jalan Raya Srandakan

Setelah berkemas akupun mulai beranjak dari lokasi tersebut sekitar jam 8 pagi. dari pantai aku telusuri jalan ke utara melalui Sorobayan lalu Kuroboyo dan bertemu jalan Srandakan. Sambil clingak-clinguk kanan kiri mencari warung karena sarapanku tadi hanya sedikit, belum kenyang. Namun warung masih pada tutup, mungkin karena sebagian orang sudah berhari raya kurban hari itu. Dari dusun Cengkiran aku berbelok ke kiri, keluar dari jalan utama karena berniat melalui daerah Selarong. Sampai di pasar Pijenan, Pandak berniat mencari makan tapi lagi-lagi warung mi-ayam bakso di situ tutup. lanjut saja ke utara sambil terus mencari warung. Sekitar jam 9 lebih akhirnya aku dapati sebuah warung mi ayam dan makanlah aku di situ.

di depan lapas pajangan
Di depan Lapas Pajangan Bantul
di depan goa selarong
Melewati wilayah Selarong

Perjalanan pulang dilanjutkan menyusuri jalan menuju Selarong. Di tanjakan yang sangat curam akupun terpaksa mendorong sepedaku karena tak mungkin untuk mengayuhnya lagi.

panas terik di kasihan
Panas teriknya siang itu
menikmati es dung dung dikala terik
Dua cup es Dung Dung merupakan delicacy di teriknya siang ini

Dari Selarong perjalanan dilanjutkan ke utara melalui Tamantirto – Banyuraden – Jl Kabupaten – Denggung – Tlacap – Nyamplung- Rejodani hingga akhirnya sampai Pencarsari. dan hari itu cuaca sangat panasssss …. It was a hot hot day!

Koordinat:

Pantai tempat camping : -7.996240, 110.241738

Lapas Pajangan :  -7.881293, 110.307464

Gapura Goa Selarong :  -7.864036, 110.318423

Recumbent Ride di suatu sore hari

Rabu, 27 Mei 2015. Udah lama gak jalan-jalan bersepeda. keinginan itu sangat kuat akhirnya sore itu langsung tancap saja. Dari rumah sekitar jam 4 sore lalu ke agen pos Dayu utk ngirim paket. di situ masih bimbang balik ke utara makan dulu atau nyunset di mana. akhirnya meluncur ke arah jalan kabupaten niatnya mau nyunset. setelah sampai kronggahan kok ada rasa pengen nyunset di sekitar selokan saja karena waktu kira2 masih cukup. dari kronggahan lurus ke selatan sampai selokan.

Sampailah di selokan cari spot bagus, terus ke barat menyebrangi ringroad, ternyata sunsetnya tenggelam di balik awan… setelah poto-poto perjalanan dilanjutkan mencari makan. Lalu meluncur ke arah jl Godean sidoarum, rasa-rasanya sudah kangen dengan Sate Sapi. di Jalan cebongan-Sidomoyo mampir Maghrib dulu di masjid…. Ealah di situ banyak banget anak2 TPA tampaknya sangat tertarik dengan sepedaku. Aku berlalu dari masjid sambil disoraki anak2… ampun deh…

sate sapi godean
Sate Sapi Godean disebut juga sate kere.

Makan Sate sapi alias sate kere di utara jalan di timur pom bensin. Udah lama gak ke sini padahal dulu sering…. seperti biasa, sing dodol ya gumun karo pitku.. hehehehe. Rasanya masih saja enak… meski tentu saja lebih enak kalau makan berdua 😀

taman lapangan denggung
Bersantai di taman bermain lapangan denggung

Setelah makan langsung pulang deh. ambil jalan cebongan terus ke utara sampai Pangukan belok ke arah Denggung. Sekitar jam 8 sampai di lapangan denggung terus foto2, jalan-jalan….  Lapangan Denggung merupakan satu dari sedikit taman kota di Sleman. Mungkin karena sebagian besar daerahnya adalah sawah dan kebun, para petingginya mengesampingkan taman kali ya… orang desa aja tiap hari liat pohon, masak mau buat taman yg ada pohonnya — gitu kali. Mungkin ini satu-satunya area publik di sleman yang ada taman bermainnya. Di tempat beginian kalau malam hari selalu saja banyak pasangan muda-mudi berpelukan tanpa rasa malu… heh…

gajah lapangan denggung
Lapangan denggung

Entah kenapa binatang Gajah yang menjadi ikon tempat ini. Lapangan Denggung. Dapet ide dari mana coba…. mengapa gak ayam, garangan, atau tikus sawah yang memang ada buanyak di wewengkon Sleman ini… hingga jam setengah 10 beranjaklah aku pulang.

Menyusuri jl Gito-gati hingga jl Palagan belok ke utara mampir dulu di Ngetiran beli Magelangan biar nanti dimakan di rumah…. bener juga sampai rumah rasa lapar membuatku melahap seporsi besar magelangan tsb.

Total perjalanan sekitar 32 Km.

Koordinat
Sate sapi (Utara POM) :  -7.773382,110.315735
Lapangan Denggung :  -7.721659,110.360825

Recumbent Ride ke Kaliurang lewat Jalan Turgo

Hari minggu, 1 Februari 2015 aku pit-pitan lagi, rencananya mau sedikit jauh dari pit-pitan sebelumnya yaitu sampai ke kawasan wisata kaliurang.

Pagi-pagi sebelum mentari menampakkan kegarangannya, aku siapkan sepeda. Sedikit melanjutkan pekerjaan kemarin, yaitu mengelas dudukan pulley yang sedikit aku ubah posisinya. Setelah itu memasukkan barang-barang bawaan ke pannier. Barang-barang yang tak boleh lupa yaitu toolkit, jas hujan, air minum, dan tentunya kamera :D.

Jam menunjukkan pukul 6 lebih sedikit dan beranjaklah aku dari rumah.

Dari Pencarsari aku menuju Kayunan mencoba napak tilas era 90-an di mana aku bersepeda tiap hari ke sekolahan. Aku lewat jalan di utara Plosorejo ternyata belum diaspal… berbatu dan mblethok… bah! kesalahan nih lewat sini, mana FWD jadi ban sesekali selip. Aku kira sudah diaspal, soalnya kalau dilihat dari utara (dari arah dusun Wonosobo) sebertinya jalan ini sudah diaspal…. beberapa saat kemudian sampailah aku ke jalan yg benar (baca: aspalan)

Lanjutlah aku menyusuri jalan menuju Kayunan. Dari kayunan ke utara menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar hingga sampai ke Pulowatu. Di situ aku istirahat sejenak. Ternyata ada sekumpulan pesepeda yang istirahat bareng di situ. Dan bisa ditebak, mereka pada gumun. Beberapa dari mereka mencoba menaiki sepedaku, tapi ya sekedar naik aja, belum dikendarai. …. sebentar aja di sini lalu lanjut ke utara.

Anak kecilpun melirik
Anak kecilpun melirik

Pelan-pelan aku selusuri jalan ke arah Turgo. Sesekali pesepeda lain menyalip aku…. santai saja yang penting menikmati, disesuaikan dengan otot kaki ini yang belum terbentuk, maklum baru saja mulai bersepeda lagi.

Pertigaan Candi
Pertigaan Candi

Foto-foto dulu di pertigaan Candi.

patung polisi
Berfoto bareng pak polisi

Lanjut ke utara sampai ke pertigaan Ngelo. Tak lupa foto bareng pak polisi yang berjaga di situ. Dari Ngelosari lanjut ke timur melewati menuju arah Kaliurang. Hampir masuk Dusun Kemiri dari kejauhan nampak ada rame-rame… apa ada kecelakaan ya? setelah didekati ternyata sedang pada gotong royong nambal jalan … ha ha.. Harus berkelok-kelok dikit menghindari semen yang masih basah. Di situ tiba-tiba ada pemuda yang nyletuk “Penak lik?” spontan aku jawab “penaaak” …. ehehehe

Sampai di Sabo Dam Kali Boyong istirahat sejenak sambil foto-foto. keren juga nih tempat. Setelah melepas lelah dan cairan ekskresi langsung lanjut saja ke timur dan belok kiri di Jalan Boyong untuk menuju pintu barat Kaliurang. Hampir sampai ke TPR sepeda harus dituntuk karena tanjakan yang sangat curam, ban sampai slip… derita FWD nih! kapan-kapan pakai RWD ah. Sampai di TPR tak lupa menyapa petugasnya, nggeblas saja karena pesepeda memang tidak membayar retribusi masuk.

Sekarang otot kaki sudah sampai pada titik lelahnya, mana jalanannya menanjak tajam. Otot paha sudah mau kram saja, jadi cuma maju dikit banget lalu berhenti biar tidak kram. Sesudah hotel Griya Persada aku menyerah. Tanjakan curam, Kaki hampir kram, Ban selip…. akhirnya aku tuntun 400 m agar sampai di kompleks Kaliurang.

FWD recumbent
Recumbent FWD di bawah patung udang

Sampai di pertigaan Jl Boyong-Jl Wara (Kaliurang Barat) berfoto dulu lalu ke timur menuju Patung Udang. Berniat foto di sekitar Patung Udang tapi baru satu dua jepret hujan keburu turun. Jadilah makan dulu nasi ramesan di sebelah barat Jadah Tempe Mbah Carik sambil menunggu hujan reda.

kaliurang
Aku dan dinginnya kaliurang

Setelah perut terisi dan hujanpun reda, kembali ke Patung Udang untuk berfoto. Setelah puas lalu turun melalui Jl Kaliurang. Meskipun kecepatannya hanya seperti motor atau mobil biasa, tapi sensasinya luar biasa ….. mungkin seperti menunggangi roller coaster…

Seperti biasa.. Bersepeda recumbent sangat menarik perhatian orang. reaksinyapun cukup beragam, ada yang melirik malu-malu, ada yang senyum, ada yang langsung ketawa, ada yang langsung berkomentar aneh-aneh. Cuekin saja! tapi ya adakalanya kalo ada orang komentar, gak kuat utk menahan untuk tidak berkomentar balik.

Nantikan cerita kami selanjutnya.

Enjoy the ride & be safe.

Koordinat
Patung Polisi Ngelosari:  -7.625948,110.403224
Sabo Dam Kali Boyong:  -7.624067,110.414075
Patung Udang Kaliurang:  -7.603303,110.427025