Sunrise menawan di waduk mini Banjaroya Kalibawang

Setelah kami dari Kedung Kandang pada cerita sebelumnya. Hari berikutnya kamipun berburu sunrise di embung Banjaroya sesuai janjian kami. Minggu pagi 14 Februari 2016, adzan subuh belum terdengar akupun meluncur menuju Kalibawang. Jalanan masih sangat sepi. Melajukan Belalang Tempurku akupun berharap tidak ketinggalan momen sunrise di waduk mini Banjaroya. Rute yang kupilih dari Kompleks Pemkab Sleman aku mengarah ke Pangukan, lalu berturut-turut Cebongan, Seyegan, Minggir, Dekso lalu belok kanan Menuju Kalibawang. Sepanjang perjalanku tersebut aku ketar-ketir karena tripmeter menunjukkan angka 270km lebih sedangkan meter penunjuk bensin sudah tidak berfungsi. Setiap aku mengisi bensin tripmeter selalu aku reset ke nol. Dengan isi tanki hampir penuh, aku bisa sewaktu-waktu kehabisan bensin di jalan kalau sejauh ini yang sudah tertempuh. Belum ada orang menjual bensin eceran sepagi itu.

Rasa ketar-ketir seketika hilang ketika aku menemukan SPBU yang buka 24 jam utara perempatan Dekso. Dengan masih terkantuk masnya meladeni permintaanku mengiisi 50 ribu. Ternyata baru dapet 40 ribu sudah penuh… wee lhaaa…. tripmeterku error ini. Pasti angka 2 di situ seharusnya angka 1, pantesan kayaknya belum begitu lama aku terakhir isi bensin….

Perjalanan kulanjutkan ke utara, hingga di Desa Banjarharjo turunlah hujan. Aku berhenti sebentar untuk memakai celana anti air, sedangkan jaket yang kupakai kebetulan sudah anti air. Di situ adzan subuh mulai terdengar. Akupun melanjutkan perjalanan ke utara sambil mencari masjid di pinggir jalan. Aku agak ragu dengan jalan masuk yang kutemukan, karena tanpa penunjuk arah ke Suroloyo ataupun embung Banjaroya. Akupun mendengar adzan cukup keras dari masjid kecil di timur jalan. Aku bergegas ke masjid itu untuk sholat subuh.

Sesudah itu akupun beranjak melanjutkan perjalanan. Kuamati kembali pertigaan itu dan akupun membaca tulisan Rest Area Bendo ….. yap. berarti benar jalan ini. Aneh sekali kenapa tidak ada penunjuk jalan padahal merupakan obyek wisata utama di Kulon Progo.

Sunrise di Banjaroya
Pagi di Banjaroya

Jalanan mulai naik-naik, akupun terus mengikuti jalan sambil mencari figur “durian” yang menjadi ciri khas embung tersebut di kiri jalan. Sampai suatu ketika aku sampai di jalan yang cukup menanjak lalu menurun, setelah kupikir-pikir tidak mungkin embungnya ada di sini. Akupun membuka GPS di HP dan menemukan bahwasanya aku memang kebablasan kurang lebih 3 Km. Salahnya kemarin gak sempat lihat peta dulu. Padahal embungnya itu hanya 3 Km dari jalan utama Sentolo-Muntilan tadi. Akupun segera berbalik arah dan menemukan tempatnya… ha ha ha … Tadi gelap sih, jadi duriannya gak kelihatan.

Segera aku keluarkan gear untuk memfoto sunrise di situ. Aku tak sempat mensurvey lokasi, jadi ya kira-kira saja. Yang penting sunrise nampak dan embung juga nampak. Jam 5.25 jepretan pertamaku kuning jingga sudah menghiasi ufuk timur. Ah, mau ndadak kebablasen barang sih … Di situ sudah ada beberapa orang yang ingin menikmati sunrise juga.

Sunrise banjaroya
Teman-teman datang pas ketika mentari terbit

Hingga berangsur-angsur mentaripun nampak. Di sinilah saatnya fotografer harus memilih untuk menikmati keindahannya dengan mata ataukah merekamnya di kamera. Pelangipun nampak di sebelah barat, tapi kuabaikan karena aku fokus merekam matahari terbit. Sekitar jam 6 kurang seperempat teman-temanku datang, ada Noel, Diah dan Isa. Akupun terus memuaskan diri mengabadikan sunrise hingga mentari kembali tenggelam di balik awan.

Aku
Sunrise dan Gunung Lawu di kejauhan

Kamipun bergeser ke sebelah timur untuk mendapatkan view pemandangan yang lebih leluasa. Di sini kamipun berfoto dengan berbagai gaya.

full team
Full team dilatarbelakangi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu

Jam 6.25 barulah si Iwan muncul…. katanya dia harus mandi dulu. Jadinya tadi ditinggal oleh Noel. Jam segini mah suasana sudah terang benderang.

bungalow di banjaroya
Ada bungalow di kawasan Embung Banjaroya
embung
Embung berlatar belakang Pegunungan Menoreh

Dari waduk mini Banjaroya ini kita bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, juga Gunung Ungaran membentuk jajaran di sebelah timur hingga di utara. Di sebelah timur hingga tenggara nampak lembah membentang yang merupakan daerah Sleman dilatarbelakangi oleh Gunung Lawu di kejauhan. Pegunungan menoreh mengisi bentang di sebelah barat laut hingga selatan.

Seperti embung berlapis plastik lainnya, embung ini juga digunakan untuk menampung air hujan di musim penghujan yang kemudian digunakan untuk mengairi kebun buah yang ada di bawahnya di musim kemarau. Dengan kapasitas hingga 10.000 meter kubik air, embung itu diharapkan mampu mengairi kebun buah seluas 30 hektar.

Prewedding di banjaroya
Digunakan untuk photo session

Dengan pemandangan yang bagus itu, tempat ini bisa dipilih untuk menjadi spot foto prewedding.

durian menoreh kuning
“Durian” menoreh kuning sebagai simbol dari embung Banjaroya.
gerbang banjaroya
Gapura masuk Embung Banjaroya. Tulisannya sudah pudar.

Sudah lewat dari jam tujuh, rasanya masih terlalu pagi untuk langsung kembali pulang. Kamipun memutuskan untuk menuju curug di dekat situ yaitu Curug Sidoharjo, karena puncak Suroloyo sudah terlalu mainstream 😀 …. perjalanan kami bisa diikuti di cerita selanjutnya …

Rute Menuju Lokasi Waduk Mini Banjaroya

Waduk mini Banjaroya berada di Tonogoro, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, DIY. Berjarak kurang lebih 38 Km dari titik nol Yogyakarta jika ditempuh melalui jalan Godean melalui Kenteng, Nanggulan

Kota Yogya ke barat melalui jalan Godean – (20 Km) – Perempatan Kenteng, Nanggulan belok ke kanan (utara) – (±5 Km) – Perempatan Dekso terus (utara) – (±10 Km) – Rest Area Bendo belok kiri (barat) – 3 Km – Waduk Mini Banjaroya berada di kiri jalan.

Jika menggunakan rute Minggir – Dekso melalui Jembatan Kreo maka jaraknya sekitar 35 Km, tapi banyak simpangan, jadi harus orang yang paham jalan.

Koordinat:

Waduk Mini Banjaroya :  -7.658986°,110.234997°

Menikmati indahnya air terjun bertingkat Kedung Kandang

Menuju Kedung Kandang

Gunungkidul selalu menawarkan sisi-sisi indahnya. 13 Februari 2016 kami berencana mengunjugi Air Terjun Kedung Kandang di kawasan wisata Nglanggeran, Patuk. Tempatnya tidak jauh dari gunung Nglanggeran. Sekitar jam satu siang aku sudah di perjalanan. Aku melewati Berbah, kawasan lava bantal, terus ke timur hingga jalan Prambanan-Piyungan lalu berbelok ke selatan.

Perempatan Kantor Desa Srimartani
Perempatan Kantor Desa Srimartani

Iseng-iseng aku melewati jalan yang tak biasa, dari perempatan Desa Srimartani aku berbelok ke timur. Jalan ini merupakan jalan alternatif yang nantinya sampai di Ngoro-oro. Jalur ini sering disebut tanjakan petir, walaupun kurang tepat karena di Dusun Petir sendiri malah jalanan masih datar belum nanjak.

tanjakan ekstrim
Tanjakan ekstrim dan berkelok

Jika kamu berboncengan mengendarai motor yang mempunyai gir rasio yang kecil (napas panjang) tidak disarankan lewat sini. Beberapa tanjakan di sini terlalu ekstrim sehingga mungkin yang bonceng harus turun karena motornya tidak kuat menanjak. Kemiringannya di beberapa lokasi lebih dari 30% dipadukan dengan kelokan sehingga tidak bisa mengambil ancang-ancang. Di salah satu tanjakan ekstrim yang berkelok dipasangi pagar dari ban oleh masyarakat, sepertinya untuk mencegah kendaraan yang dari atas kebablasan keluar dari jalan karena menurun dan berbelok tajam.

ngoro-oro
Ngoro-oro, Desa Seribu Menara

Hingga sampailah aku di Ngoro-oro, tempat ini cukup terkenal karena merupakan tempat didirikannya semua tower pemancar televisi yang melayani area DIY dan Solo Raya. Di satu desa ini terdapat paling tidak 16 tower televisi dan BTS. Bagi yang paham, cukup mudah untuk membedakan mana yang tower televisi, mana yang BTS jaringan seluler. Perbedaannya bisa dilihat dari bentuk antenanya yang memang berbeda.

terasering ngoro-oro
Persawahan di Ngoro-oro

Sejenak aku menikmati pemandangan luar biasa ini. Di arah timur nampaklah Gungung Nglanggeran yang di bawahnya terhampar sawah dengan terasering yang memukau. Sawah-sawah ini hanya menghijau di musim penghujan karena sumber airnya hanya mengalir di musim hujan.

perempatan tawangsari
Perempatan Tawangsari, Ngoro-oro

Setelah beberapa jepretan akupun melanjutkan perjalanan ke timur. Sesampainya perempatan dusun Tawangsari akupun berbelok ke kanan mengikuti penunjuk arah Gunung Purba Nglanggeran. Setelah melewati pintu masuk Gunung Nglanggeran terus saja lalu mentok belok kiri sudah terlihat plang menuju Embung Nglanggeran dan Kedung Kandang. Ikuti jalan ke selatan sekitar 300 meter jalan menurun lalu menjumpai lapangan, setelah jembatan persis itulah jalan masuknya. Masuk ke kanan (barat) melalui jalan cor.

papan
Papan penunjuk Kedung Kandang dan nJurug Talang Purba
parkiran motor Kedung Kandang
Parkiran Motor

Sekitar 400 meter masuk dari jalan raya samapilah di tempat parkir. Tempat parkir ini dikelola oleh penduduk setempat. Dari sini jika kita ingin ke Kedung Kandang maka kita jalan ke selatan, sedangkan jika ingin ke nJurug Talang Purba maka mengikuti jalan setapak ke arah barat.

Kedung Kandang yang eksotis

jalan masuk Kedung Kandang
Jalan masuk

Sekitar jam setengah 3 akupun mulai menapaki jalan menuju air terjun. Untuk menuju air terjunnya memang cukup membuat sehat, sekitar 1 kilometer trekking.

Puncak Ngekong
Pemandangan dari Puncak Ngekong
Pemandangan air terjun dan sekitarnya dari Puncak Ngekong
Pemandangan air terjun dan sekitarnya dari Puncak Ngekong

Selepas dari perkebunan penduduk pemandangan menakjubkan langsung terbentang di depan mata. Di sinilah puncak Ngekong. Setelah memuaskan diri mengamati pemandangan dari sini akupun beranjak turun mengikuti jalan setapak.

istirahat
Terdapat bungalow untuk beristirahat

Dari kejauhan sudah nampak teman-teman yang lebih dulu datang sedang duduk-duduk di sebuah bungalow. Akupun say hi lalu menyalami mereka, sudah sekitar tiga bulan kami tak berjumpa. Setelah aku menyeka keringat dan ngobrol sebentar kamipun menuju ke lokasi air terjun Kedung Kandang yang yang tak jauh dari situ.

Air Terjun bertingkat Kedung Kandang
Air Terjun bertingkat Kedung Kandang

Air terjun Kedung Kandang membelah areal persawahan terasering membentuk pemandangan yang unik dan menarik. Batuan breksi andesit dari formasi gunung Purba Nglanggeran menjadi dasar dari air terjun bertingkat ini. Airnya mengalir secara musiman yaitu di musim penghujan saja. Airnya berasal dari sisi selatan Gunung Nglanggeran.

air terjun kedung kandang
Menapaki air terjun
kedung
Fotografernya juga difoto
selfie di Kedung Kandang
Bersiap selfie
papan di kedung kandang
Papan penunjuk dan peringatan

Berhubung lokasi ini cukup jauh dari parkiran, maka pengunjung disarankan untuk berada di Air Terjun hanya sampai jam 5 sore.

berfoto bersama
Full Team
jelajah bumi
Fotograferpun harus bergaya juga
debit air kedung kandang
Debit airnya sedang

Kali ini memang sengaja kami mengunjungi air terjun, karena biasanya pada musim penghujan begini akan menunjukkan keelokannya secara maksimal.

terasering
Persawahan terasering menghiasi pemandangan
bebatuan purba
Bebatuan purba

Setelah puas berfoto dengan banyak gaya (walaupun sebenarnya belum puas), kamipun harus meninggalkan lokasi karena waktu sudah menunjukkan jam setengah lima. Jalan untuk kembali berbeda dengan jalan turun. Oleh plang penunjuk kita diarahkan untuk melewati sisi barat air terjun lalu mendaki. Dari jalur ini kita masih bisa menikmati pemandangan menakjubkan bebatuan dan persawahan.

jembatan
Melalui Jembatan

Setelah melalui jalan setapak berkelok dan sebuah jembatan bambu kamipun sampai kembali di areal parkiran. Kamipun beristirahat duduk-duduk untuk melepas lelah.

mbakso
mbakso dulu

Sekitar jam setengah enam kamipun beranjak pulang. Kali ini kami mampir makan di warung bakso di seputaran Sambipitu. Kamipun janjian esok hari akan menuju ke Embung Banjaroya untuk berburu sunrise. Nantikan cerita seru kami selanjutnya.

RUTE Menuju Lokasi Kedung Kandang

Kedung Kandang berada di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul. Untuk mencapainya dari Kota jogja ada beberapa jalur yang bisa dipilih:

Via Ngoro-oro (±27 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk Ke Kiri – (7,5 Km) – Perempatan Tawangsari Ngoro-oro ke kanan – (1 Km) – Pintu masuk Gunung Nglanggeran terus – (300 m) – Pertigaan ke kiri – (100 m) – Jalan masuk Embung Nglanggeran ke kanan – (300 m) – Jalan masuk Kedung Kandang di kanan – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Via Kantor Desa Nglanggeran (±26 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk terus – (2,5 Km) – Persimpangan Sebelum Jembatan Sungai Pentung Ambil Lajur kiri lalu ikuti jalan yang kiri – (1 Km) – Pertigaan Karangsari Ada plang Nglanggeran belok kiri – (4 Km) – Pertigaan terus – (100 m) – Jalan masuk Embung Nglanggeran ke kanan – (300 m) – Jalan masuk Kedung Kandang di kanan – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Via Sambipitu (±30 Km)

Kota Jogja ke timur melewati Jalan Wonosari – (17,5 Km) – Perempatan Patuk terus – (8,5 Km) – Persimpangan Sambiptu masuk lalu belok kiri jalan menurun ke utara – (3,5 Km) – Jalan masuk Kedung Kandang di kiri – (400 m) – Parkiran Kedung Kandang

Tiket Masuk

Per Februari 2016
Parkir motor: Rp 2.000
Retribusi per orang: Rp 5.000

Koordinat:

Air terjun Kedung Kandang:  -7.855537°,110.535104°

Parkiran Kedung Kandang:  -7.851531°,110.535475°

Perempatan Srimartani:  -7.824823°,110.479381°

Menengok Pesona Telaga Biru Semin

Tiba-tiba saja foto-foto Telaga Biru Semin bertebaran di timeline. Tempat ini diklaim mirip Raja Ampat (ah, tenane?) ataupun mirip telaga warna dieng (kalau ini lebih make sense). Akupun tergerak untuk ke sana juga. Hari itu (4 Feb 2016) akupun memantapkan diri pergi ke sana.

Kupat Tahu
Seporsi Kupat Tahu yang Nikmat

Diawali dengan mengisi perut dengan seporsi kupat tahu di dekat buk bengkong Jakal km 12,5. Setelah melahap lezatnya makan siangku akupun beranjak menyusuri Jalan Jangkang. Waktu menunjukkan hampir jam dua siang. Kususuri jalan itu hingga berganti provinsi, Jawa Tengah. Di pertigaan Manisrenggo aku mengambil jalan ke kanan menuju arah Prambanan, lalu belok kiri di pertigaan mengikuti jalan truk pasir. Jalan ini sudah dicor semen sepertinya untuk mengimbangi beban truk pasir yang demikian hebatnya. Namun aku keliru, ternyata belum semua dicor sehingga jalannya justru rusak parahhhhh!! nggronjal abis. Mana kaca helemku agak longgar, jadi tiap ada gronjalan kaca langsung otomatis nutup. Kalo kacanya kinclong sih gapapa, lha ini sudah burem baret-baret jadi pandangan agak terganggu kalau ditutup. Tiap gronjal jeglek nutup, trus buka lagi, nutup lagi … begitu terus… hedeh! kepala udah dimiringkan untuk mengurangi efek otomatis nutup.. tetepp ajah nutup sendiri… wkwkwkwk

Singkat cerita, setelah melalui beberapa kelokan dan entah berapa gronjalan sampai juga aku di Jalan Jogja-Solo. Belalang tempur kuarahkan ke timur melalui Pabrik Gula Gondang, lalu sesampainya di pertigaan Bendogantungan akupun berbelok ke kanan menuju Wedi.

Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya
Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya

Terhenti sebentar di persimpangan kereta api karena ada kereta api prameks yang lewat. Heran dengan para pengguna motor, banyak yang tidak taat aturan dengan menunggu di lajur kanan. Setelah melewati pasar Wedi, terlihat Masjid Agung Wedi, dari sini akupun berbelok ke kiri ke arah timur menuju Bayat.

sawah
Persawahan di Wedi Klaten

Di tepi jalan akupun berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sawah dan pegunungan di kejauhan. Setelah itu perjalanan aku teruskan melewati Bayat hingga sampailah ke Cawas.

Pertigaan Cawas
Pertigaan Cawas

Dari pertigaan Cawas ambil ke kanan, sesuai dengan petunjuk arah Gunung Kidul dan Wonogiri.

Pertigaan Bulu Cawas
Di Pertigaan Bulu, Nanggulan, Cawas. Ke kanan menuju pusat Kecamatan Semin lurus menuju Watukelir dan Wonogiri.

Hingga sampai pertigaan Nglengkong akupun mengambil jalan ke kiri ke arah timur, karena jika lurus akan mengarah ke Ngawen. Lalu sampai pada pertigaan Bulu. Dari sini jangan menuju Semin, karena jika kita akan ke Telaga Biru tapi di sini belok ke kanan maka justru akan jauh memutar dan naik turun gunung. Meskipun sama-sama di kecamatan Semin, justru ambillah arah lurus ke timur (menuju Wonogiri) karena merupakan jalan paling dekat dan tidak pakai naik gunung dulu, Telaga Biru berada di ujung Timur Laut dari kecamatan Semin.

pertigaan krendetan
Pertigaan Krendetan

Hingga sekitar 6 kilometer ke timur sampailah di Krendetan, ada pertigaan dengan tugu tulisan Rilex belok ke kanan.

Jalan Masuk
Jalan masuk mirip simpang lima.

Tidak sampai satu kilometer ke selatan sampailah di pintu masuk dusung Ngentak, tepat di jalan yang menikung ke kanan. Di gapura ini sudah dipajang spanduk besar penunjuk arah menuju Telaga Biru. Kita bisa masuk melewati dusun Karangjoho yang jalannya sudah cor beton (gapura warna hijau), tapi boleh juga mengikuti penunjuk arah dusun Ngentak (gapura warna biru) karena pas langsung ke parkiran meskipun jalannya masih berbatu.

Gapura Ngentak
Gapura Dusun Ngentak
parkiran
Parkiran Telaga Biru

Akupun menyusuri jalan berbatu itu, lalu belok kiri dan langsung disambut oleh mas-mas petugas parkir dari Karang Taruna dusun Ngentak. Jam 4 sore aku sampai di parkiran.

plang
Plang di dekat parkiran

Dari parkiran akupun berjalan mengikuti petunjuk arah. Tidak berapa jauh sampailah aku di lokasi puncak telaga biru.

IMG_8019

Dan WOW di sinilah aku melihat pemandangan yang elok. Dan tempat ini sungguh ramai oleh para muda-mudi membawa tongkat swafoto. Tak ada satu frame yang bisa diambil tanpa ada orang.

bermain air di telaga biru
Bisa bermain air

Di bawah sana banyak orang bermain air. Ada yang menggunakan gethek (rakit bambu) ada pula yang memakai perahu karet berwujud kuda sembrani ada yang cuma nyebur aja renang gak jelas.

di puncak
Menunggu surya tenggelam
Diselingi rintik hujan
Diselingi rintik hujan

Puncak ini menghadap ke barat sehingga sunset akan jelas terlihat jika memang sunset terlihat. Di sisi barat hingga selatan nampak pegunungan Gunungkidul dengan puncak Tugu Magir-nya yang cukup jelas terlihat. Di sebelah barat laut jika cuaca cerah akan nampak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, namun sayang kali ini aku hanya melihatnya sesekali mengintip dari balik awan.

hati-hati
Berhati-hati jika di tepian
Banyak juga yang berfoto di tepi telaga

Akupun berfoto dengan berbagai gaya. Namun harus tetap hati-hati. Untungnya aku masih bisa merasa singunen jadi cukup aman …. he he he

tambang
Tambang batu gamping masih aktif
batu gamping
Bongkahan batu gamping siap diangkut

Telaga yang terbentuk merupakan sisa penambangan batu gamping. Pada suatu waktu air terperangkap di sana hingga terbentuklah telaga. Tempat ini masih aktif ditambang, jadi jangan heran jika nantinya kamu akan mendapati tempat ini akan berubah bentuknya.

ujung jurang
Cocok untuk berkontemplasi

Cukup lama aku di sini, rasanya tidak ingin pulang saja. Tempat ini mengingatkanku akan bukit kapur di sekitaran Trimulyo, Jetis, Bantul karena suasananya yang mirip, hanya saja di sana belum terbentuk telaga di bawah. Dan pikirankupun melayang kala masih bahagia bersamanya menikmati tenggelamnya mentari di sana …… ssssssssssst … hapuskan dari pikiran!

Suasananya yang mendung membuat langit kurang menarik untuk dijepret. Jikalau musim kemarau pasti mentari akan terlihat lebih cantik. Namun entah jika musim kemarau apakah telaganya mengering atau tidak.

Hingga waktu terus bergulir, tak terasa waktu sudah jam enam kurang seperempat. Meskipun mentari belum tenggelam namun sunset sepertinya tak mungkin terlihat dengan bagus akupun beranjak pulang. Di parkiran sempat-sempatnya mas-nya penjaga parkir bertanya, “Kok sendirian mas?” Akupun menjawab sekenanya, “Nggak ada temennya!” Which is obvious :p

Motor kukendarai pulang. Hujanpun mengguyur meskipun tidak begitu deras. Perutpun lapar dan aku mampir di Cawas untuk makan.

Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci
Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci

Nila bakar dan teh poci sungguh sempurna suasana dan rasanya. Akupun disapa seseorang mas-mas yang tertarik dengan kameraku. Kamipun ngobrol dan ternyata dia bekerja di sebuah bank pemerintah di Papua dan kebetulan sedang mudik. Diapun asyik menceritakan kisahnya dan akupun tak sengaja menceritakan kisahku juga. Nila tinggal tulang-belulang dan teh di poci-pun sudah kosong dan akupun kemudian pulang membawa kenangan …….

Rute Menuju Lokasi Telaga Biru Semin

Telaga biru semin berada di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Semin, Gunungkidul. Untuk mencapainya dari Kota jogja ada beberapa jalur yang bisa dipilih.

Via Cawas: ±57 km

Kota Jogja – Jalan Solo – Prambanan – Wedi – Bayat – Cawas – Nanggulan – Krendetan – Ngentak.
Jalan datar mulus, ada sedikit jalan rusak ringan di jalan kabupaten. Melalui jalan negara (Jogja-Solo), Jalan Kabupaten (Wedi-Cawas) dan Jalan Provinsi (Cawas – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Nglipar: ±61 Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Nglipar – Ngawen – Semin – Krajan – Ngentak.
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Sambipitu – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Wonosari : ±69Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Wonosari – Karangmojo – Semin – Krajan – Ngentak
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Wonosari – gapura masuk dusun Ngentak).

Koordinat:

Parkiran Telaga Biru: -7.813966°,110.765601°

Pertigaan Cawas: -7.763007°,110.698378°