Menuju Puncak Bucu

Hari itu, 8 November 2015, berawal dari sebuah postingan di group Pitnik, kami berencana untuk bersepeda di sekitar piyungan. Pagi hari sekitar jam 6 aku sudah meluncur dari rumah menuju titik kumpul yaitu rumah Bu Nany di seputaran Desa Jambidan Banguntapan. Sampai di rumah Bu Nany sekitar jam 7. Kami harus menunggu Alif yang sedang membantu orang tuanya. Lumayan lama kami menunggu hingga satu jam lebih barulah Alif menunjukkan batang hidungnya.

di depan rumah bu Nany
Bersiap untuk berangkat.

Setelah melahap sarapan yang sudah disiapkan Bu Nany segera saja kami bersiap berangkat. Bu Nany membawakan kami snack dan satu botol teh yang dimasukkan ke tas pannierku. Kamipun sepakat untuk menuju puncak Bucu, tidak begitu jauh dari situ. Perjalanan dimulai dengan mengarahkan laju sepeda ke timur lalu mengikuti jalan menuju dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan. Dari Ngablak kami berbelok ke utara mengukuti jalan besar menuju dusun Banyakan, lalu berbelok ke kanan memasuki kampung lalu menyusuri jalan di tepi sawah. Tidak begitu lama kami bertemu dengan perbukitan.

di salah satu tikungan
Melalui tanjakan berkelok
terus naik
Di jalan yang terus naik.

Perjalanan ini cukup berat, aku lebih sering menuntun sepeda karena sepedaku memang tidak dirancang untuk mampu menaiki jalanan securam ini dengan dikendarai. Alif yang berjiwa muda dan memakai sepeda gunung tetap mengowes sepedanya dan berada paling depan. Sedangkan Bu Nany sepertinya kepayahan, jadi harus menuntun sepedanya juga seperti aku.

jalanan berliku
Hampir sampai ujung tanjakan.

Sekitar satu kilometer sampailah kami di ujung tanjakan. Kamipun istirahat di gardu ronda. Kitapun sempat membeli es mambo dan memakannya di situ. Cukup menyejukkan di siang yang panas itu. Cuaca mulai sedikit mendung kamipun mulai mengayuh sepeda lagi. Kini jalanan tidak menanjak lagi, hanya sedikit turun naik.

prasasti
BUMI WISATA PERKEMAHAN & OLAH RAGA
jalan setapak
Mulai melalui jalan setapak.
memasuki jalan setapak
Jalan setapak masih bisa dilalui menggunakan sepeda
melibas jalan setapak
Alif masih mampu mengendarai sepedanya di track ini.

Hingga akhirnya sekitar jam 11 kami sampai di areal puncak bucu. Kami datang dari arah selatan. Dari prasasti yang ada di situ, ternyata tempat itu merupakan bumi perkemahan yang diresmikan pada tahun 2004. Puncak Bucu sendiri baru saja populer beberapa bulan terakhir. Tulisan PUNCAK BUCU -pun tahun kemarin belum ada.

Kamipun melalui jalan setapak untuk menuju ke puncak Bucu. Sepeda harus sedikit diangkat karena tidak semua bisa dilalui dengan dikendarai.

di puncak bucu
PUNCAK BUCU

Tujuan pertama adatah tulisan PUNCAK BUCU. Tulisan ini berada di sisi timur Puncak Bucu. Seperti biasa foto-foto adalah hal wajib. Akupun membuka tas pannier dan mendapati air teh yang tadi dibawa dari rumah Bu Nany ternyata bocor dan membasahi isi tasku. Wah! Ternyata jika diletakkan miring masih ada kemungkinan untuk bocor. Memang sebaiknya kalau membawa botol tetap dalam posisi tegak untuk mengurangi resiko kebocoran yang berasal dari tutupnya.
Saat itu pula aku melihat tasku agak robek.. waduuh!

pemandangan dari atas puncak bucu
Kami sampai juga di sini.
di atas puncak bucu
Berlatar pemandangan daerah Piyungan

Selesai dari tulisan PUNCAK BUCU, kami bergeser ke sisi barat. Di posisi ini kita bisa melihat hamparan luas Yogyakarta di sebelah barat. Hujan rintikpun sesekali datang, memaksa kami untuk tidak berlama-lama di tempat itu.

jalan masuk bucu
Jalan masuk Puncak Bucu dari sisi timur.

Kamipun berencana melalui jalan lain, kali ini jalan di sebelah timur Puncak Bucu. Dimulai dari jalan makadam, kamipun bertemu dengan pintu masuk sebelah timur yang berupa tangga berundak.

jalan turun yang tak layak
Melalui jalan yang rusak parah.

Kemudian jalan mulai menurun. Jalan ini memang sungguh tidak manusiawi. Sepertinya hanya pantas untuk sepeda downhill. Kamipun harus menuntun sepeda hingga sampai perkampungan beberapa ratus meter jaraknya. Hujan mulai jatuh titik demi titik dan kian deras. Hingga akhirnya kamipun berhenti di sebuah gardu ronda untuk nunut ngeyup.

nunut ngeyup
Menunggu hujan reda.
tas pannierku robek
Tas pannierku robek.

Ternyata kudapati tas pannierku robek parah. Robekan sedikit yang aku dapati di puncak tadi ternyata sudah melebar. Mungkin karena jalannya nggronjal maka membuat sobeknya kian parah. Kamipun berteduh cukup lama di tempat ini sekitar satu jam.

di bawah puncak bucu
Dari sisi barat Puncak Bucu. Terlihat puncak bucu di belakang.

Hingga hujan mulai reda kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah makan mi Ayam di dekat jembatan Ngablak kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Koordinat:

Puncak Bucu :  -7.861605°,110.442977°

Pitnik Hari Pahlawan Napak Tilas Jendral Soedirman: TMP Kusumanegara & Goa Selarong

Hari minggu, 1 November 2015, jam 5 pagi aku meluncur menyusuri dinginnya jalanan. Hari itu merupakan agenda rutin Gowes Miggu Wage komunitas Pitnik Jogja yang disesuaikan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Start di timur Balai Kota
Berkumpul di timur Balai Kota Yogyakarta

Sekitar jam enam kurang seperempat aku sampai di titik kumpul yaitu di sebelah timur balai kota yogyakarta. Di situ sudah ada banyak orang berkumpul. Sambil menunggu yang lain kamipun bercengkrama hingga jam enam seperempat saatnya kami bersiap untuk berangkat. Dari balaikota kami menyusuri jalan Kusuma Negara, hingga sampai di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) kami berbelok ke kiri menuju pintu masuknnya.

gerbang TMP kusuma negara
Gerbang di sisi selatan Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara

Suasana masih sepi, gerbang selatan TMP masih tertutup dan waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Kamipun mendatangi penjaga dan segera gerbangpun dibukakan. Kami semua mulai memasuki area TMP. Sebagian besar dari kami baru pertama kali ini masuk ke TMP Kusuma Negara.

mulai membentuk barisan
Ketika memasuki taman makam pahlawan kita diharuskan melakukan penghormatan. Di sini kami mulai membentuk barisan tiga bersaf.

Saat masuk ke TMP ini kita diharuskan berbaris lalu melakukan penghormatan. Mungkin di TMP yang lain juga begitu. Setelah melakukan penghormatan kamipun bergeser menuju makam Jendral Soedirman.

Menabur bunga di pusara Jendral Soedirman. Photo Credit: Trijono Santoso
Menabur bunga di pusara Jendral Soedirman.
Photo Credit: Trijono Santoso

Kemudian kamipun berdoa di depan makam Jendral Soedirman. Setelah selesai berdoa tak lupa menaburkan bunga di pusara.

di dalam area TMP kusuma negara
Berpose di tengah Taman Makam Pahlawan

Acara inti di TMP sudah selesai, kemudian seperti biasa ada sesi foro-foto.

di sini terpampang nama-nama pahlawan
Nama-nama pahlawan terpampang di sini

Setelah puas berfoto kamipun mulai beranjak ke tujuan berikutnya yaitu Goa Selarong. Dari TMP kami menyusuru jalan ke selatan hingga bertemu dengan jalan Batikan (Kali Mambu) dan terus saja hingga Jalan Menteri Supeno.Perjalanan kami cukup santai, tidak tergesa karena memang untuk bersenang senang. Kemudian kami berbelok ke arah barat beberapa kilometer hingga sampai Jl. Bugisan. Kemudian kani ke selatan melalui Kantor Kecamatan Kasihan lalu berbelok ke barat dan terus menyusuri jalan menuju Selarong.

sekitar kasongan
Istirahat sejenak

Sampai di perempatan Desa Bangunjiwo kami istirahat sejenak sambil menunggu teman yang tercecer. Cuaca sudah mulai panas dan waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Setelah beberapa saat kamipun kembali mengayuh sepeda menuju Goa Selarong. Setiba di sana kami memarkirkan sepeda di dekat lapangan. Suasana sudah mulai ramai.

di depan blankon raksasa
Di depan blangkon raksasa

Waktu menunjukkan jam setengah sembilan. Karena kirab belum sampai lokasi, mereka masih berjalan, maka kami foto2 di depan blangkon raksasa yang berada di sekitar pintu masuk. Blangkon itu katanya tercatat di MURI sebagai blangkon terbesar dengan ukuran keliling 17,40 meter, tinggi 4 meter, panjang 6,88 meter dan lebar 5,65 meter. Setelah berfoto dengan berbagai pose kamipun menuju ke areal goa selarong yang tidak jauh dari situ.

prasasti
Sebuah Prasasti
dhuwet
Buah Duwet (Jamblang) . Sering juga disebut anggur jawa.
ceplukan
Buah ceplukan

tangga naik menuju goa

Tangga naik menuju lokasi goa

Di sana banyak yang jual buah-buahan seperti sawo, duwet, ceplukan, dan buah-buahan lain. Aku sempatkan membeli buah duwet dua ribu rupiah, cukup untuk menuntaskan kerinduan akan rasanya, maklum sudah lama sekali tak merasakan buah duwet. Kemudian akupun menapaki tangga menuju lokasi goa yg lumayan tinggi.

di depan goa lanang
Di depan Goa Kakung

di depan goa

Di depan Goa Putri

goa kakung
Goa Kakung yang berupa cerukan

Kamipun memuaskan diri berfoto di depan goa. Goanya kecil, hanya sebuah cerukan. Etah bagaimana dulu pangeran Diponegoro dan juga Jendral Soedirman bisa bersembunyi di sini. Mungkin pemimpinnya aja yg di dalam goa, pasukannya di luar.

membeli buah-buahan
Beli buah-buahan sebelum pulang

Jam sembilan lebih sedikit kamipun mulai kembali turun. Iring-iringan kirab-pun mulai berdatangan.

mandhegani gunungan
Kirab. seseorang mandhegani iring-iringan gunungan.
wanita cantik dalam barisan
Kirab. Diwarnai dengan wanita-wanita muda yang cantik
Ibu-ibu membawa sayur mayur
Kirab. Ibu-ibu membawa sayur mayur
berbaris mengiringi gunungan
Kirab. Prajurit berbaris.

Di antara kirab itu kamipun pulang melawan arusnya. Sepeda harus dituntun karena ramainya jalan. Karena sibuknya aku foto-foto tak terasa semua meninggalkanku. teman-teman sudah tidak kelihatan di depan. Setelah menembus arus kirab itu hingga sampai di gapura goa slarong aku berbelok ke kiri, lepas dari iring-iringan kirab yang berasal dari arah kanan.

Makan siang di dekat pasar Niten. Photo Credit: Ajix Aing
Makan siang di dekat pasar Niten.
Photo Credit: Ajix Aing

Akupun mengayuh sepeda sendiri pelan-pelan menikmati suasana. sampai di jalan Bantul aku mampir untuk membeli soto, mengisi perut yang sudah lapar. Hingga suatu ketika mas Ajix lewat dan aku melambai ke arahnya dari dalam warung. “Weh.. tadi kan aku paling belakang, kok mereka di belakangku”, pikirku. Setelah selesai makan akupun kembali melanjutkan perjalanan pulang, hingga sampai di sekitar pasar Niten aku diawe-awe orang dari suatu warung. Ternyata mereka rombongan teman2ku tadi yang sedang makan di warung. Usut punya usut sesampainya di gapura Selarong tadi mereka belok ke kanan dan terus melawan arus kirab untuk melihat kirab secara keseluruhan. Makanya aku jadi di depan mereka, haha.

vespa nyungsep
Vespa Nyungsep, Aku dan Sepeda Recumbent

Hampir tengah hari, cuaca panas sekali. Bulan november tanpa awan dan hujan memang sungguh hebat panasnya. Kami mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing. Di jalan kamipun mulai mrithili satu demi satu mengambil jalan masing-masing. Aku malah bareng dua personil Jogja Folding Bike yang juga pulang dari jembatan sesek kali progo. Hingga sampai di teteg sepur Malioboro akupun mengambil jalanku sendiri ke utara, menyusuri jalan Mangkubumi dari selatan. Tak lupa untuk sejenak berfoto vespa nyungsep, sebuah obyek dalam Jogja Street Sculpture Project. Kemudian akupun mengayuh sepedaku lagi, masih sebelas kilometer menuju rumah.

Koordinat:
Gerbang selatan TMP Kusumanegara : -7.803274,110.383874
Pintu masuk Goa Selarong : -7.863423, 110.316224

Bike Camping Pantai Selatan Bantul

22 September 2015 aku berniat untuk Camping di Pantai. Pantai yang menjadi tujuanku ini berada di sebelah barat pantai Goa Cemara, tepatnya di perbatasan antara kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan Bantul. Aku pilih tempat itu karena sepi tidak ada bangunan dan cukup ideal untuk membangun tenda karena teduh oleh pohon cemara.

Perjalanan kali ini dimulai siang hari, meskipun sebenarnya rencana berangkat pagi. Hari itu ada beberapa hal yang mesti diurus dulu, dan ketika sudah siap berangkat ternyata aku menemukan bahwa frame di bagian bawah jok sepeda hampir patah sehingga harus dilas dulu. Sekitar setengah dua siang aku mulai berangkat ke timur menuju jalan kaliurang. tak lupa mampir dulu ke JNE candi lalu ke selatan menyusuri jalan kaliurang dan mampir juga ke Kantor Pos Dayu untuk kirim paket. kemudian kuarahkan sepedaku melalui jalan Monjali. aku berniat membelah kota.

sepeda dan tugu jogja
Berfoto di tugu pal putih Jogja

Ketika sampai tugu kuberanikan diri untuk mengambil foto. maklum aku belum pernah foto di sini dengan sepedaku. bahkan setelah diingat-ingat aku terakhir berfoto disini sebelum era camera digital, waktu area tugu belum dipercantik, waktu belum menjadi arena foto2 banyak orang … ha ha ha… setelah itu aku terus ke selatan menyusuri Jl Mangkubumi.

di depan stasiun tugu
Menunggu kereta lewat

Berhenti sejenak di perlintasan kereta untuk sekedar foto dan melihat kereta yang melintas. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl Malioboro dan Jl A. Yani. Baru kali ini aku menyusuri malioboro bersepeda recumbent … waah nikmatnya… 😀

di sekitar nol kilometer
Orang-orangpun gumun

Dari titik nol aku ke kanan menuju Ngabean lalu berbelok ke kiri hingga ketemu jalan Bantul. Di jalan bantul tinggal lurus saja ke selatan…

istirahat sejenak
Sudah sore

Sekitar jam 4 sore aku sampai di sekitar kota bantul, niat untuk foto-foto di alun-alun bantul aku urungkan karena hari sudah sore, takut gak bisa nyunset di pantai. Hampir jam 5 sore akupun belum sampai di wilayah kecamatan Sanden.

aku dan tenggelamnya mentari
Menikmati tenggelamnya mentari …. jika saja bersamamu

Niat hati ingin bisa mengejar sunset di pantai namun apa daya. sekitar 5 km dari pantai tujuan waktu sudah lewat dari pukul 5 sore. Mentari sudah hampir tenggelam jika dikalkulasi takkan cukup waktu untuk mengabadikan sunset di pantai. Di bulak sebelum jembatan merah itulah aku menghentikan sepedaku untuk berfoto dalam suasana sunset.

Setelah mentari benar-benar tenggelam perjalanan kulanjutkan. Di dusun Karanganyar, Sanden aku mampir di masjid untuk solat maghrib dan mengisi air untuk bekal nanti memasak. Perjalananpun dilalui dalam gulita. Aku menuju arah Pantai Pandansari, lalu berbelok ke barat ke arah Pantai Goa Cemara, di situ aku masih ke barat hingga aku sampai di perempatan. Dulu sebelum JJLS dibangun ini merupakan pertigaan, sedangkan jalan yang ke barat merupakan jalan yang baru. Dari perempatan ini belok ke selatan lurus saja hingga keluar dari jalan aspal dan sampailah aku di pantai yang kutuju. Aku tak tahu ini namanya pantai apa, sepertinya memang tidak dinamai. aku dulu pertama ke sini sebelum ada istilah Pantai Goa Cemara, hanya ada Pandansari di sebelah timur dan Pandansimo di sebelah barat.

memasak air
Memasak sebelum tidur

Pantainya sangat lengang…. hanya ada suara angin, ranting cemara yang saling beradu dan deburan ombak pantai selatan. benar-benar sepi tak ada orang ataupun bangunan, cukup menakutkan memang. Di spot yang cukup ideal kudirikan tenda. sesudah itu memasak untuk makan dan minum. ketika malam sudah cukup akhirnya akupun merebahkan diri untuk istirahat.

sarapan sendiri
Sarapan dengan macaroni dan secangkir kopi panas
sepedaku menggapai ujung selatan
the Lone rider

Pagi sebelum mentari terbit kusempatkan berfoto sekitar tenda sambil memasak sarapan. Setelah selesai sarapan aku pun menuju bibir pantai untuk memuaskan diri berfoto dengan sepedaku dan sunrise. Suasana pagi itu cukup hazy, di langit terdapat awan yang hampir merata sehingga menghalangi birunya langit. Titik-titik air asin terbawa angin menyebabkan suasana layaknya kabut tipis, cukup menghalangi kamera untuk merekam dengan jelas. Saat itu ada beberapa orang datang menikmati sunrise di pantai itu juga.

jalan srandakan
Sampai di jalan Raya Srandakan

Setelah berkemas akupun mulai beranjak dari lokasi tersebut sekitar jam 8 pagi. dari pantai aku telusuri jalan ke utara melalui Sorobayan lalu Kuroboyo dan bertemu jalan Srandakan. Sambil clingak-clinguk kanan kiri mencari warung karena sarapanku tadi hanya sedikit, belum kenyang. Namun warung masih pada tutup, mungkin karena sebagian orang sudah berhari raya kurban hari itu. Dari dusun Cengkiran aku berbelok ke kiri, keluar dari jalan utama karena berniat melalui daerah Selarong. Sampai di pasar Pijenan, Pandak berniat mencari makan tapi lagi-lagi warung mi-ayam bakso di situ tutup. lanjut saja ke utara sambil terus mencari warung. Sekitar jam 9 lebih akhirnya aku dapati sebuah warung mi ayam dan makanlah aku di situ.

di depan lapas pajangan
Di depan Lapas Pajangan Bantul
di depan goa selarong
Melewati wilayah Selarong

Perjalanan pulang dilanjutkan menyusuri jalan menuju Selarong. Di tanjakan yang sangat curam akupun terpaksa mendorong sepedaku karena tak mungkin untuk mengayuhnya lagi.

panas terik di kasihan
Panas teriknya siang itu
menikmati es dung dung dikala terik
Dua cup es Dung Dung merupakan delicacy di teriknya siang ini

Dari Selarong perjalanan dilanjutkan ke utara melalui Tamantirto – Banyuraden – Jl Kabupaten – Denggung – Tlacap – Nyamplung- Rejodani hingga akhirnya sampai Pencarsari. dan hari itu cuaca sangat panasssss …. It was a hot hot day!

Koordinat:

Pantai tempat camping : -7.996240, 110.241738

Lapas Pajangan :  -7.881293, 110.307464

Gapura Goa Selarong :  -7.864036, 110.318423

Recumbent Ride di suatu sore hari

Rabu, 27 Mei 2015. Udah lama gak jalan-jalan bersepeda. keinginan itu sangat kuat akhirnya sore itu langsung tancap saja. Dari rumah sekitar jam 4 sore lalu ke agen pos Dayu utk ngirim paket. di situ masih bimbang balik ke utara makan dulu atau nyunset di mana. akhirnya meluncur ke arah jalan kabupaten niatnya mau nyunset. setelah sampai kronggahan kok ada rasa pengen nyunset di sekitar selokan saja karena waktu kira2 masih cukup. dari kronggahan lurus ke selatan sampai selokan.

Sampailah di selokan cari spot bagus, terus ke barat menyebrangi ringroad, ternyata sunsetnya tenggelam di balik awan… setelah poto-poto perjalanan dilanjutkan mencari makan. Lalu meluncur ke arah jl Godean sidoarum, rasa-rasanya sudah kangen dengan Sate Sapi. di Jalan cebongan-Sidomoyo mampir Maghrib dulu di masjid…. Ealah di situ banyak banget anak2 TPA tampaknya sangat tertarik dengan sepedaku. Aku berlalu dari masjid sambil disoraki anak2… ampun deh…

sate sapi godean
Sate Sapi Godean disebut juga sate kere.

Makan Sate sapi alias sate kere di utara jalan di timur pom bensin. Udah lama gak ke sini padahal dulu sering…. seperti biasa, sing dodol ya gumun karo pitku.. hehehehe. Rasanya masih saja enak… meski tentu saja lebih enak kalau makan berdua 😀

taman lapangan denggung
Bersantai di taman bermain lapangan denggung

Setelah makan langsung pulang deh. ambil jalan cebongan terus ke utara sampai Pangukan belok ke arah Denggung. Sekitar jam 8 sampai di lapangan denggung terus foto2, jalan-jalan….  Lapangan Denggung merupakan satu dari sedikit taman kota di Sleman. Mungkin karena sebagian besar daerahnya adalah sawah dan kebun, para petingginya mengesampingkan taman kali ya… orang desa aja tiap hari liat pohon, masak mau buat taman yg ada pohonnya — gitu kali. Mungkin ini satu-satunya area publik di sleman yang ada taman bermainnya. Di tempat beginian kalau malam hari selalu saja banyak pasangan muda-mudi berpelukan tanpa rasa malu… heh…

gajah lapangan denggung
Lapangan denggung

Entah kenapa binatang Gajah yang menjadi ikon tempat ini. Lapangan Denggung. Dapet ide dari mana coba…. mengapa gak ayam, garangan, atau tikus sawah yang memang ada buanyak di wewengkon Sleman ini… hingga jam setengah 10 beranjaklah aku pulang.

Menyusuri jl Gito-gati hingga jl Palagan belok ke utara mampir dulu di Ngetiran beli Magelangan biar nanti dimakan di rumah…. bener juga sampai rumah rasa lapar membuatku melahap seporsi besar magelangan tsb.

Total perjalanan sekitar 32 Km.

Koordinat
Sate sapi (Utara POM) :  -7.773382,110.315735
Lapangan Denggung :  -7.721659,110.360825

Recumbent Ride ke Kaliurang lewat Jalan Turgo

Hari minggu, 1 Februari 2015 aku pit-pitan lagi, rencananya mau sedikit jauh dari pit-pitan sebelumnya yaitu sampai ke kawasan wisata kaliurang.

Pagi-pagi sebelum mentari menampakkan kegarangannya, aku siapkan sepeda. Sedikit melanjutkan pekerjaan kemarin, yaitu mengelas dudukan pulley yang sedikit aku ubah posisinya. Setelah itu memasukkan barang-barang bawaan ke pannier. Barang-barang yang tak boleh lupa yaitu toolkit, jas hujan, air minum, dan tentunya kamera :D.

Jam menunjukkan pukul 6 lebih sedikit dan beranjaklah aku dari rumah.

Dari Pencarsari aku menuju Kayunan mencoba napak tilas era 90-an di mana aku bersepeda tiap hari ke sekolahan. Aku lewat jalan di utara Plosorejo ternyata belum diaspal… berbatu dan mblethok… bah! kesalahan nih lewat sini, mana FWD jadi ban sesekali selip. Aku kira sudah diaspal, soalnya kalau dilihat dari utara (dari arah dusun Wonosobo) sebertinya jalan ini sudah diaspal…. beberapa saat kemudian sampailah aku ke jalan yg benar (baca: aspalan)

Lanjutlah aku menyusuri jalan menuju Kayunan. Dari kayunan ke utara menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar hingga sampai ke Pulowatu. Di situ aku istirahat sejenak. Ternyata ada sekumpulan pesepeda yang istirahat bareng di situ. Dan bisa ditebak, mereka pada gumun. Beberapa dari mereka mencoba menaiki sepedaku, tapi ya sekedar naik aja, belum dikendarai. …. sebentar aja di sini lalu lanjut ke utara.

Anak kecilpun melirik
Anak kecilpun melirik

Pelan-pelan aku selusuri jalan ke arah Turgo. Sesekali pesepeda lain menyalip aku…. santai saja yang penting menikmati, disesuaikan dengan otot kaki ini yang belum terbentuk, maklum baru saja mulai bersepeda lagi.

Pertigaan Candi
Pertigaan Candi

Foto-foto dulu di pertigaan Candi.

patung polisi
Berfoto bareng pak polisi

Lanjut ke utara sampai ke pertigaan Ngelo. Tak lupa foto bareng pak polisi yang berjaga di situ. Dari Ngelosari lanjut ke timur melewati menuju arah Kaliurang. Hampir masuk Dusun Kemiri dari kejauhan nampak ada rame-rame… apa ada kecelakaan ya? setelah didekati ternyata sedang pada gotong royong nambal jalan … ha ha.. Harus berkelok-kelok dikit menghindari semen yang masih basah. Di situ tiba-tiba ada pemuda yang nyletuk “Penak lik?” spontan aku jawab “penaaak” …. ehehehe

Sampai di Sabo Dam Kali Boyong istirahat sejenak sambil foto-foto. keren juga nih tempat. Setelah melepas lelah dan cairan ekskresi langsung lanjut saja ke timur dan belok kiri di Jalan Boyong untuk menuju pintu barat Kaliurang. Hampir sampai ke TPR sepeda harus dituntuk karena tanjakan yang sangat curam, ban sampai slip… derita FWD nih! kapan-kapan pakai RWD ah. Sampai di TPR tak lupa menyapa petugasnya, nggeblas saja karena pesepeda memang tidak membayar retribusi masuk.

Sekarang otot kaki sudah sampai pada titik lelahnya, mana jalanannya menanjak tajam. Otot paha sudah mau kram saja, jadi cuma maju dikit banget lalu berhenti biar tidak kram. Sesudah hotel Griya Persada aku menyerah. Tanjakan curam, Kaki hampir kram, Ban selip…. akhirnya aku tuntun 400 m agar sampai di kompleks Kaliurang.

FWD recumbent
Recumbent FWD di bawah patung udang

Sampai di pertigaan Jl Boyong-Jl Wara (Kaliurang Barat) berfoto dulu lalu ke timur menuju Patung Udang. Berniat foto di sekitar Patung Udang tapi baru satu dua jepret hujan keburu turun. Jadilah makan dulu nasi ramesan di sebelah barat Jadah Tempe Mbah Carik sambil menunggu hujan reda.

kaliurang
Aku dan dinginnya kaliurang

Setelah perut terisi dan hujanpun reda, kembali ke Patung Udang untuk berfoto. Setelah puas lalu turun melalui Jl Kaliurang. Meskipun kecepatannya hanya seperti motor atau mobil biasa, tapi sensasinya luar biasa ….. mungkin seperti menunggangi roller coaster…

Seperti biasa.. Bersepeda recumbent sangat menarik perhatian orang. reaksinyapun cukup beragam, ada yang melirik malu-malu, ada yang senyum, ada yang langsung ketawa, ada yang langsung berkomentar aneh-aneh. Cuekin saja! tapi ya adakalanya kalo ada orang komentar, gak kuat utk menahan untuk tidak berkomentar balik.

Nantikan cerita kami selanjutnya.

Enjoy the ride & be safe.

Koordinat
Patung Polisi Ngelosari:  -7.625948,110.403224
Sabo Dam Kali Boyong:  -7.624067,110.414075
Patung Udang Kaliurang:  -7.603303,110.427025