Menuju Puncak Bucu

Hari itu, 8 November 2015, berawal dari sebuah postingan di group Pitnik, kami berencana untuk bersepeda di sekitar piyungan. Pagi hari sekitar jam 6 aku sudah meluncur dari rumah menuju titik kumpul yaitu rumah Bu Nany di seputaran Desa Jambidan Banguntapan. Sampai di rumah Bu Nany sekitar jam 7. Kami harus menunggu Alif yang sedang membantu orang tuanya. Lumayan lama kami menunggu hingga satu jam lebih barulah Alif menunjukkan batang hidungnya.

di depan rumah bu Nany
Bersiap untuk berangkat.

Setelah melahap sarapan yang sudah disiapkan Bu Nany segera saja kami bersiap berangkat. Bu Nany membawakan kami snack dan satu botol teh yang dimasukkan ke tas pannierku. Kamipun sepakat untuk menuju puncak Bucu, tidak begitu jauh dari situ. Perjalanan dimulai dengan mengarahkan laju sepeda ke timur lalu mengikuti jalan menuju dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan. Dari Ngablak kami berbelok ke utara mengukuti jalan besar menuju dusun Banyakan, lalu berbelok ke kanan memasuki kampung lalu menyusuri jalan di tepi sawah. Tidak begitu lama kami bertemu dengan perbukitan.

di salah satu tikungan
Melalui tanjakan berkelok
terus naik
Di jalan yang terus naik.

Perjalanan ini cukup berat, aku lebih sering menuntun sepeda karena sepedaku memang tidak dirancang untuk mampu menaiki jalanan securam ini dengan dikendarai. Alif yang berjiwa muda dan memakai sepeda gunung tetap mengowes sepedanya dan berada paling depan. Sedangkan Bu Nany sepertinya kepayahan, jadi harus menuntun sepedanya juga seperti aku.

jalanan berliku
Hampir sampai ujung tanjakan.

Sekitar satu kilometer sampailah kami di ujung tanjakan. Kamipun istirahat di gardu ronda. Kitapun sempat membeli es mambo dan memakannya di situ. Cukup menyejukkan di siang yang panas itu. Cuaca mulai sedikit mendung kamipun mulai mengayuh sepeda lagi. Kini jalanan tidak menanjak lagi, hanya sedikit turun naik.

prasasti
BUMI WISATA PERKEMAHAN & OLAH RAGA
jalan setapak
Mulai melalui jalan setapak.
memasuki jalan setapak
Jalan setapak masih bisa dilalui menggunakan sepeda
melibas jalan setapak
Alif masih mampu mengendarai sepedanya di track ini.

Hingga akhirnya sekitar jam 11 kami sampai di areal puncak bucu. Kami datang dari arah selatan. Dari prasasti yang ada di situ, ternyata tempat itu merupakan bumi perkemahan yang diresmikan pada tahun 2004. Puncak Bucu sendiri baru saja populer beberapa bulan terakhir. Tulisan PUNCAK BUCU -pun tahun kemarin belum ada.

Kamipun melalui jalan setapak untuk menuju ke puncak Bucu. Sepeda harus sedikit diangkat karena tidak semua bisa dilalui dengan dikendarai.

di puncak bucu
PUNCAK BUCU

Tujuan pertama adatah tulisan PUNCAK BUCU. Tulisan ini berada di sisi timur Puncak Bucu. Seperti biasa foto-foto adalah hal wajib. Akupun membuka tas pannier dan mendapati air teh yang tadi dibawa dari rumah Bu Nany ternyata bocor dan membasahi isi tasku. Wah! Ternyata jika diletakkan miring masih ada kemungkinan untuk bocor. Memang sebaiknya kalau membawa botol tetap dalam posisi tegak untuk mengurangi resiko kebocoran yang berasal dari tutupnya.
Saat itu pula aku melihat tasku agak robek.. waduuh!

pemandangan dari atas puncak bucu
Kami sampai juga di sini.
di atas puncak bucu
Berlatar pemandangan daerah Piyungan

Selesai dari tulisan PUNCAK BUCU, kami bergeser ke sisi barat. Di posisi ini kita bisa melihat hamparan luas Yogyakarta di sebelah barat. Hujan rintikpun sesekali datang, memaksa kami untuk tidak berlama-lama di tempat itu.

jalan masuk bucu
Jalan masuk Puncak Bucu dari sisi timur.

Kamipun berencana melalui jalan lain, kali ini jalan di sebelah timur Puncak Bucu. Dimulai dari jalan makadam, kamipun bertemu dengan pintu masuk sebelah timur yang berupa tangga berundak.

jalan turun yang tak layak
Melalui jalan yang rusak parah.

Kemudian jalan mulai menurun. Jalan ini memang sungguh tidak manusiawi. Sepertinya hanya pantas untuk sepeda downhill. Kamipun harus menuntun sepeda hingga sampai perkampungan beberapa ratus meter jaraknya. Hujan mulai jatuh titik demi titik dan kian deras. Hingga akhirnya kamipun berhenti di sebuah gardu ronda untuk nunut ngeyup.

nunut ngeyup
Menunggu hujan reda.
tas pannierku robek
Tas pannierku robek.

Ternyata kudapati tas pannierku robek parah. Robekan sedikit yang aku dapati di puncak tadi ternyata sudah melebar. Mungkin karena jalannya nggronjal maka membuat sobeknya kian parah. Kamipun berteduh cukup lama di tempat ini sekitar satu jam.

di bawah puncak bucu
Dari sisi barat Puncak Bucu. Terlihat puncak bucu di belakang.

Hingga hujan mulai reda kamipun melanjutkan perjalanan. Setelah makan mi Ayam di dekat jembatan Ngablak kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Koordinat:

Puncak Bucu :  -7.861605°,110.442977°