Camping di Bukit Kosakora

Hari itu, sabtu 26 September 2015, kami alumni JMR (Jomblo Mendaki Rinjani) berencana camping di bukit kosakora. Yak, sebuah bukit di sebelah Pantai Ngrumput yang sedang naik daun itu. Setahuku Pantai Ngrumput ini juga bernama Pantai Pengilon. Aku sendiri pernah lewat tempat itu, ya hanya sekedar lewat ketika susur pantai dan waktu itu belum dikenal istilah bukit kosakora.

Kelompok pertama berangkat siang/sore hari agar bisa booking tempat. Aku rencana awalnya ikut yang kloter pertama, namun karena belum siap sehingga harus ikut kelompok kedua. Skitar jam 6 petang Widi tiba di rumahku, barang bawaan kumasukkan ke bagasi mobilnya lalu kitapun berangkat ke kosan Willy di sebelah utara Candi Gebang. Di sana sudah menunggu juga Latus dan Rini. Sekitar jam setengah 8 kami berlima beranjak menuju Pantai tersebut. Ketika di perjalanan Willy “diinterogasi” oleh dua orang psikolog cantik kita, sepertinya mereka layak menjadi interrogator handal. Widi-pun juga dipaksa menceritakan kisah cintanya yang kandas. Aku sendiri bisa lolos dari interogasi karena mereka sepertinya sudah muak mendengar ceritaku …. wkkkkk … tapi sayangnya kita gagal menginterogasi balik kepada dua psikolog ini, padahal aku sendiri yakin kisah mereka juga sangat “menarik”… mana ada cewe mendekati tigapuluhan gapunya kisah cinta seru.

Sekitar jam 10 malam kami sampai di parkiran. Lalu kamipun berjalan melalui tepi ladang untuk menuju ke lokasi. Di perjalanan menuju lokasi kami disambut oleh Bayu dan Nanda yang sepertinya girang sekali kami datang … wkwkwkww. Sampai di bukit kosakora lalu kami segera membangun tenda. Kami berkenalan dengan dua orang teman Bayu yaitu Ali dan Nisa. Setelah itu kami makan nasi padang yang telah kami beli sebelumnya tadi ketika di perjalanan.

curhat kosakora
Asyiknya curhat di malam hari

Kamipun bergeser ke tepi dimana kita bisa melihat pantai dengan leluasa. cahaya bulan yang hampir purnama menyembul dari balik awan membuat suasana temaram yang sangat cocok untuk mengeluarkan isi hati. Curhatan Nanda lama banget hingga lewat tengah malam. para personel-pun pada balik ke tenda dan menyisakan kami berempat. Dan akupun mendengarkan kisah cinta Nisa si calon dokter cantik…. agak aneh gak sih, baru kenal udah denger cerita begituan? wkkkkkk … Curhatan sempat terpotong karena ada orang lokal yang mendatangi kami untuk menagih camp fee sebesar Rp 20.000 per tenda.

curhat malam-malam
Sudah dini hari curhat juga belum usai

Malam semakin larut dan tiba giliran Bayu bercerita. wah ternyataaaaa! hampir jam 3 kamipun balik ke tenda untuk tidur.

olah raga
Bangun pagi, olahraga dikit

Pagi hari lewat jam 7 aku membuat sarapan mi instan sekedar untuk mengganjal perut… sial bener nih anak2 gak ada yg mau bantuin.

di atas kosakora
Wefie di bukit kosakora
hop kosakora
Jump!

Sebelum membongkar tenda kamipun bergeser ke tepi tebing untuk memuaskan berfoto-foto. Setelah tenda terlipat dan barang-barang masuk tas, kamipun menuruni bukit kosakora dan menuju pantai Ngrumput.

bermain pasir
Niatnya untuk mengubur si Bayu

Di pantai kami melakukan aktifitas layaknya orang ke pantai, mainan ombak, mainan pasir … apalah. Tak lupa mengubur Bayu yang ultah hari itu di pasir.

di pantai ngrumput
All crew di pantai ngrumput

Setelah puas bermain hingga hampir tengah hari kamipun bersih-bersih diri lalu beranjak dari pantai.

jajan di baron
Makan dulu ya sodara-sodara

Lepas dari pantai Ngrumput kami menuju pantai Baron untuk makan siang dan sholat. Akhirnya Bayu yg sdg ultahpun membayari makanan kami siang itu… makasih bay… semoga segera beres masalahmu.

jembatan dodogan
Di atas jembatan Dodogan

Selepas Baron rombongan kami terpisah. Kendaraan kami arahkan melalui JJLS. Dari Playen kendaraan kami arahkan menuju Dlingo biar bisa mampir di Jembatan Dodogan, jembatan dengan pemandangan eksotis lembah sungai Oya yg dulu pernah beberapa kali jadi setting untuk FTV. Setelah sampai Piyungan kamipun berbelok ke utara. karena hari masih siang kami berencana mengunjungi satu tempat wisata. rencana ke museum Ullen Sentalu kami batalkan karena hari sudah lewat asar, padahal dari info yg kami dapatkan museum tersebut tutup jam 15.30. Akhirnya kami membelokkan kendaraan ke arah Candi Ijo.

candi ijo
Candi ijo
candi ijo yang ramai
Ramainya Candi Ijo oleh para penikmat sunset

Candi yang berada di Gumuk Ijo ini kini menjadi favorit untuk menikmati sunset. Suasana sangat ramai. berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu ketika aku ke tempat ini. Setelah berfoto dengan berbagai gaya menakjubkan kamipun beranjak pulang sekitar jam 5 sore….

Satu pertanyaan yang belum terjawab : “Sampai kapan ya kita bisa kumpul bareng seperti ini?”

Koordinat
Parkiran Bukit Kosakora dan Pantai Ngrumput : -8.136859, 110.582927
Jembatan Dodogan :  -7.925205, 110.491270
Candi Ijo :  -7.783762, 110.511985

Recumbent Ride ke Kaliurang lewat Jalan Turgo

Hari minggu, 1 Februari 2015 aku pit-pitan lagi, rencananya mau sedikit jauh dari pit-pitan sebelumnya yaitu sampai ke kawasan wisata kaliurang.

Pagi-pagi sebelum mentari menampakkan kegarangannya, aku siapkan sepeda. Sedikit melanjutkan pekerjaan kemarin, yaitu mengelas dudukan pulley yang sedikit aku ubah posisinya. Setelah itu memasukkan barang-barang bawaan ke pannier. Barang-barang yang tak boleh lupa yaitu toolkit, jas hujan, air minum, dan tentunya kamera :D.

Jam menunjukkan pukul 6 lebih sedikit dan beranjaklah aku dari rumah.

Dari Pencarsari aku menuju Kayunan mencoba napak tilas era 90-an di mana aku bersepeda tiap hari ke sekolahan. Aku lewat jalan di utara Plosorejo ternyata belum diaspal… berbatu dan mblethok… bah! kesalahan nih lewat sini, mana FWD jadi ban sesekali selip. Aku kira sudah diaspal, soalnya kalau dilihat dari utara (dari arah dusun Wonosobo) sebertinya jalan ini sudah diaspal…. beberapa saat kemudian sampailah aku ke jalan yg benar (baca: aspalan)

Lanjutlah aku menyusuri jalan menuju Kayunan. Dari kayunan ke utara menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar hingga sampai ke Pulowatu. Di situ aku istirahat sejenak. Ternyata ada sekumpulan pesepeda yang istirahat bareng di situ. Dan bisa ditebak, mereka pada gumun. Beberapa dari mereka mencoba menaiki sepedaku, tapi ya sekedar naik aja, belum dikendarai. …. sebentar aja di sini lalu lanjut ke utara.

Anak kecilpun melirik
Anak kecilpun melirik

Pelan-pelan aku selusuri jalan ke arah Turgo. Sesekali pesepeda lain menyalip aku…. santai saja yang penting menikmati, disesuaikan dengan otot kaki ini yang belum terbentuk, maklum baru saja mulai bersepeda lagi.

Pertigaan Candi
Pertigaan Candi

Foto-foto dulu di pertigaan Candi.

patung polisi
Berfoto bareng pak polisi

Lanjut ke utara sampai ke pertigaan Ngelo. Tak lupa foto bareng pak polisi yang berjaga di situ. Dari Ngelosari lanjut ke timur melewati menuju arah Kaliurang. Hampir masuk Dusun Kemiri dari kejauhan nampak ada rame-rame… apa ada kecelakaan ya? setelah didekati ternyata sedang pada gotong royong nambal jalan … ha ha.. Harus berkelok-kelok dikit menghindari semen yang masih basah. Di situ tiba-tiba ada pemuda yang nyletuk “Penak lik?” spontan aku jawab “penaaak” …. ehehehe

Sampai di Sabo Dam Kali Boyong istirahat sejenak sambil foto-foto. keren juga nih tempat. Setelah melepas lelah dan cairan ekskresi langsung lanjut saja ke timur dan belok kiri di Jalan Boyong untuk menuju pintu barat Kaliurang. Hampir sampai ke TPR sepeda harus dituntuk karena tanjakan yang sangat curam, ban sampai slip… derita FWD nih! kapan-kapan pakai RWD ah. Sampai di TPR tak lupa menyapa petugasnya, nggeblas saja karena pesepeda memang tidak membayar retribusi masuk.

Sekarang otot kaki sudah sampai pada titik lelahnya, mana jalanannya menanjak tajam. Otot paha sudah mau kram saja, jadi cuma maju dikit banget lalu berhenti biar tidak kram. Sesudah hotel Griya Persada aku menyerah. Tanjakan curam, Kaki hampir kram, Ban selip…. akhirnya aku tuntun 400 m agar sampai di kompleks Kaliurang.

FWD recumbent
Recumbent FWD di bawah patung udang

Sampai di pertigaan Jl Boyong-Jl Wara (Kaliurang Barat) berfoto dulu lalu ke timur menuju Patung Udang. Berniat foto di sekitar Patung Udang tapi baru satu dua jepret hujan keburu turun. Jadilah makan dulu nasi ramesan di sebelah barat Jadah Tempe Mbah Carik sambil menunggu hujan reda.

kaliurang
Aku dan dinginnya kaliurang

Setelah perut terisi dan hujanpun reda, kembali ke Patung Udang untuk berfoto. Setelah puas lalu turun melalui Jl Kaliurang. Meskipun kecepatannya hanya seperti motor atau mobil biasa, tapi sensasinya luar biasa ….. mungkin seperti menunggangi roller coaster…

Seperti biasa.. Bersepeda recumbent sangat menarik perhatian orang. reaksinyapun cukup beragam, ada yang melirik malu-malu, ada yang senyum, ada yang langsung ketawa, ada yang langsung berkomentar aneh-aneh. Cuekin saja! tapi ya adakalanya kalo ada orang komentar, gak kuat utk menahan untuk tidak berkomentar balik.

Nantikan cerita kami selanjutnya.

Enjoy the ride & be safe.

Koordinat
Patung Polisi Ngelosari:  -7.625948,110.403224
Sabo Dam Kali Boyong:  -7.624067,110.414075
Patung Udang Kaliurang:  -7.603303,110.427025