Bike Camping Pantai Selatan Bantul

22 September 2015 aku berniat untuk Camping di Pantai. Pantai yang menjadi tujuanku ini berada di sebelah barat pantai Goa Cemara, tepatnya di perbatasan antara kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan Bantul. Aku pilih tempat itu karena sepi tidak ada bangunan dan cukup ideal untuk membangun tenda karena teduh oleh pohon cemara.

Perjalanan kali ini dimulai siang hari, meskipun sebenarnya rencana berangkat pagi. Hari itu ada beberapa hal yang mesti diurus dulu, dan ketika sudah siap berangkat ternyata aku menemukan bahwa frame di bagian bawah jok sepeda hampir patah sehingga harus dilas dulu. Sekitar setengah dua siang aku mulai berangkat ke timur menuju jalan kaliurang. tak lupa mampir dulu ke JNE candi lalu ke selatan menyusuri jalan kaliurang dan mampir juga ke Kantor Pos Dayu untuk kirim paket. kemudian kuarahkan sepedaku melalui jalan Monjali. aku berniat membelah kota.

sepeda dan tugu jogja
Berfoto di tugu pal putih Jogja

Ketika sampai tugu kuberanikan diri untuk mengambil foto. maklum aku belum pernah foto di sini dengan sepedaku. bahkan setelah diingat-ingat aku terakhir berfoto disini sebelum era camera digital, waktu area tugu belum dipercantik, waktu belum menjadi arena foto2 banyak orang … ha ha ha… setelah itu aku terus ke selatan menyusuri Jl Mangkubumi.

di depan stasiun tugu
Menunggu kereta lewat

Berhenti sejenak di perlintasan kereta untuk sekedar foto dan melihat kereta yang melintas. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl Malioboro dan Jl A. Yani. Baru kali ini aku menyusuri malioboro bersepeda recumbent … waah nikmatnya… ūüėÄ

di sekitar nol kilometer
Orang-orangpun gumun

Dari titik nol aku ke kanan menuju Ngabean lalu berbelok ke kiri hingga ketemu jalan Bantul. Di jalan bantul tinggal lurus saja ke selatan…

istirahat sejenak
Sudah sore

Sekitar jam 4 sore aku sampai di sekitar kota bantul, niat untuk foto-foto di alun-alun bantul aku urungkan karena hari sudah sore, takut gak bisa nyunset di pantai. Hampir jam 5 sore akupun belum sampai di wilayah kecamatan Sanden.

aku dan tenggelamnya mentari
Menikmati tenggelamnya mentari …. jika saja bersamamu

Niat hati ingin bisa mengejar sunset di pantai namun apa daya. sekitar 5 km dari pantai tujuan waktu sudah lewat dari pukul 5 sore. Mentari sudah hampir tenggelam jika dikalkulasi takkan cukup waktu untuk mengabadikan sunset di pantai. Di bulak sebelum jembatan merah itulah aku menghentikan sepedaku untuk berfoto dalam suasana sunset.

Setelah mentari benar-benar tenggelam perjalanan kulanjutkan. Di dusun Karanganyar, Sanden aku mampir di masjid untuk solat maghrib dan mengisi air untuk bekal nanti memasak. Perjalananpun dilalui dalam gulita. Aku menuju arah Pantai Pandansari, lalu berbelok ke barat ke arah Pantai Goa Cemara, di situ aku masih ke barat hingga aku sampai di perempatan. Dulu sebelum JJLS dibangun ini merupakan pertigaan, sedangkan jalan yang ke barat merupakan jalan yang baru. Dari perempatan ini belok ke selatan lurus saja hingga keluar dari jalan aspal dan sampailah aku di pantai yang kutuju. Aku tak tahu ini namanya pantai apa, sepertinya memang tidak dinamai. aku dulu pertama ke sini sebelum ada istilah Pantai Goa Cemara, hanya ada Pandansari di sebelah timur dan Pandansimo di sebelah barat.

memasak air
Memasak sebelum tidur

Pantainya sangat lengang…. hanya ada suara angin, ranting cemara yang saling beradu dan deburan ombak pantai selatan. benar-benar sepi tak ada orang ataupun bangunan, cukup menakutkan memang. Di spot yang cukup ideal kudirikan tenda. sesudah itu memasak untuk makan dan minum. ketika malam sudah cukup akhirnya akupun merebahkan diri untuk istirahat.

sarapan sendiri
Sarapan dengan macaroni dan secangkir kopi panas
sepedaku menggapai ujung selatan
the Lone rider

Pagi sebelum mentari terbit kusempatkan berfoto sekitar tenda sambil memasak sarapan. Setelah selesai sarapan aku pun menuju bibir pantai untuk memuaskan diri berfoto dengan sepedaku dan sunrise. Suasana pagi itu cukup hazy, di langit terdapat awan yang hampir merata sehingga menghalangi birunya langit. Titik-titik air asin terbawa angin menyebabkan suasana layaknya kabut tipis, cukup menghalangi kamera untuk merekam dengan jelas. Saat itu ada beberapa orang datang menikmati sunrise di pantai itu juga.

jalan srandakan
Sampai di jalan Raya Srandakan

Setelah berkemas akupun mulai beranjak dari lokasi tersebut sekitar jam 8 pagi. dari pantai aku telusuri jalan ke utara melalui Sorobayan lalu Kuroboyo dan bertemu jalan Srandakan. Sambil clingak-clinguk kanan kiri mencari warung karena sarapanku tadi hanya sedikit, belum kenyang. Namun warung masih pada tutup, mungkin karena sebagian orang sudah berhari raya kurban hari itu. Dari dusun Cengkiran aku berbelok ke kiri, keluar dari jalan utama karena berniat melalui daerah Selarong. Sampai di pasar Pijenan, Pandak berniat mencari makan tapi lagi-lagi warung mi-ayam bakso di situ tutup. lanjut saja ke utara sambil terus mencari warung. Sekitar jam 9 lebih akhirnya aku dapati sebuah warung mi ayam dan makanlah aku di situ.

di depan lapas pajangan
Di depan Lapas Pajangan Bantul
di depan goa selarong
Melewati wilayah Selarong

Perjalanan pulang dilanjutkan menyusuri jalan menuju Selarong. Di tanjakan yang sangat curam akupun terpaksa mendorong sepedaku karena tak mungkin untuk mengayuhnya lagi.

panas terik di kasihan
Panas teriknya siang itu
menikmati es dung dung dikala terik
Dua cup es Dung Dung merupakan delicacy di teriknya siang ini

Dari Selarong perjalanan dilanjutkan ke utara melalui Tamantirto – Banyuraden – Jl Kabupaten – Denggung – Tlacap – Nyamplung- Rejodani hingga akhirnya sampai Pencarsari. dan hari itu cuaca sangat panasssss …. It was a hot hot day!

Koordinat:

Pantai tempat camping : -7.996240, 110.241738

Lapas Pajangan :  -7.881293, 110.307464

Gapura Goa Selarong :  -7.864036, 110.318423

Recumbent Ride ke Kaliurang lewat Jalan Turgo

Hari minggu, 1 Februari 2015 aku pit-pitan lagi, rencananya mau sedikit jauh dari pit-pitan sebelumnya yaitu sampai ke kawasan wisata kaliurang.

Pagi-pagi sebelum mentari menampakkan kegarangannya, aku siapkan sepeda. Sedikit melanjutkan pekerjaan kemarin, yaitu mengelas dudukan pulley yang sedikit aku ubah posisinya. Setelah itu memasukkan barang-barang bawaan ke pannier. Barang-barang yang tak boleh lupa yaitu toolkit, jas hujan, air minum, dan tentunya kamera :D.

Jam menunjukkan pukul 6 lebih sedikit dan beranjaklah aku dari rumah.

Dari Pencarsari aku menuju Kayunan mencoba napak tilas era 90-an di mana aku bersepeda tiap hari ke sekolahan. Aku lewat jalan di utara Plosorejo ternyata belum diaspal… berbatu dan mblethok… bah! kesalahan nih lewat sini, mana FWD jadi ban sesekali selip. Aku kira sudah diaspal, soalnya kalau dilihat dari utara (dari arah dusun Wonosobo) sebertinya jalan ini sudah diaspal…. beberapa saat kemudian sampailah aku ke jalan yg benar (baca: aspalan)

Lanjutlah aku menyusuri jalan menuju Kayunan. Dari kayunan ke utara menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar hingga sampai ke Pulowatu. Di situ aku istirahat sejenak. Ternyata ada sekumpulan pesepeda yang istirahat bareng di situ. Dan bisa ditebak, mereka pada gumun. Beberapa dari mereka mencoba menaiki sepedaku, tapi ya sekedar naik aja, belum dikendarai. …. sebentar aja di sini lalu lanjut ke utara.

Anak kecilpun melirik
Anak kecilpun melirik

Pelan-pelan aku selusuri jalan ke arah Turgo. Sesekali pesepeda lain menyalip aku…. santai saja yang penting menikmati, disesuaikan dengan otot kaki ini yang belum terbentuk, maklum baru saja mulai bersepeda lagi.

Pertigaan Candi
Pertigaan Candi

Foto-foto dulu di pertigaan Candi.

patung polisi
Berfoto bareng pak polisi

Lanjut ke utara sampai ke pertigaan Ngelo. Tak lupa foto bareng pak polisi yang berjaga di situ. Dari Ngelosari lanjut ke timur melewati menuju arah Kaliurang. Hampir masuk Dusun Kemiri dari kejauhan nampak ada rame-rame… apa ada kecelakaan ya? setelah didekati ternyata sedang pada gotong royong nambal jalan … ha ha.. Harus berkelok-kelok dikit menghindari semen yang masih basah. Di situ tiba-tiba ada pemuda yang nyletuk “Penak lik?” spontan aku jawab “penaaak” …. ehehehe

Sampai di Sabo Dam Kali Boyong istirahat sejenak sambil foto-foto. keren juga nih tempat. Setelah melepas lelah dan cairan ekskresi langsung lanjut saja ke timur dan belok kiri di Jalan Boyong untuk menuju pintu barat Kaliurang. Hampir sampai ke TPR sepeda harus dituntuk karena tanjakan yang sangat curam, ban sampai slip… derita FWD nih! kapan-kapan pakai RWD ah. Sampai di TPR tak lupa menyapa petugasnya, nggeblas saja karena pesepeda memang tidak membayar retribusi masuk.

Sekarang otot kaki sudah sampai pada titik lelahnya, mana jalanannya menanjak tajam. Otot paha sudah mau kram saja, jadi cuma maju dikit banget lalu berhenti biar tidak kram. Sesudah hotel Griya Persada aku menyerah. Tanjakan curam, Kaki hampir kram, Ban selip…. akhirnya aku tuntun 400 m agar sampai di kompleks Kaliurang.

FWD recumbent
Recumbent FWD di bawah patung udang

Sampai di pertigaan Jl Boyong-Jl Wara (Kaliurang Barat) berfoto dulu lalu ke timur menuju Patung Udang. Berniat foto di sekitar Patung Udang tapi baru satu dua jepret hujan keburu turun. Jadilah makan dulu nasi ramesan di sebelah barat Jadah Tempe Mbah Carik sambil menunggu hujan reda.

kaliurang
Aku dan dinginnya kaliurang

Setelah perut terisi dan hujanpun reda, kembali ke Patung Udang untuk berfoto. Setelah puas lalu turun melalui Jl Kaliurang. Meskipun kecepatannya hanya seperti motor atau mobil biasa, tapi sensasinya luar biasa ….. mungkin seperti menunggangi roller coaster…

Seperti biasa.. Bersepeda recumbent sangat menarik perhatian orang. reaksinyapun cukup beragam, ada yang melirik malu-malu, ada yang senyum, ada yang langsung ketawa, ada yang langsung berkomentar aneh-aneh. Cuekin saja! tapi ya adakalanya kalo ada orang komentar, gak kuat utk menahan untuk tidak berkomentar balik.

Nantikan cerita kami selanjutnya.

Enjoy the ride & be safe.

Koordinat
Patung Polisi Ngelosari:  -7.625948,110.403224
Sabo Dam Kali Boyong:  -7.624067,110.414075
Patung Udang Kaliurang:  -7.603303,110.427025