Sunrise menawan di waduk mini Banjaroya Kalibawang

Setelah kami dari Kedung Kandang pada cerita sebelumnya. Hari berikutnya kamipun berburu sunrise di embung Banjaroya sesuai janjian kami. Minggu pagi 14 Februari 2016, adzan subuh belum terdengar akupun meluncur menuju Kalibawang. Jalanan masih sangat sepi. Melajukan Belalang Tempurku akupun berharap tidak ketinggalan momen sunrise di waduk mini Banjaroya. Rute yang kupilih dari Kompleks Pemkab Sleman aku mengarah ke Pangukan, lalu berturut-turut Cebongan, Seyegan, Minggir, Dekso lalu belok kanan Menuju Kalibawang. Sepanjang perjalanku tersebut aku ketar-ketir karena tripmeter menunjukkan angka 270km lebih sedangkan meter penunjuk bensin sudah tidak berfungsi. Setiap aku mengisi bensin tripmeter selalu aku reset ke nol. Dengan isi tanki hampir penuh, aku bisa sewaktu-waktu kehabisan bensin di jalan kalau sejauh ini yang sudah tertempuh. Belum ada orang menjual bensin eceran sepagi itu.

Rasa ketar-ketir seketika hilang ketika aku menemukan SPBU yang buka 24 jam utara perempatan Dekso. Dengan masih terkantuk masnya meladeni permintaanku mengiisi 50 ribu. Ternyata baru dapet 40 ribu sudah penuh… wee lhaaa…. tripmeterku error ini. Pasti angka 2 di situ seharusnya angka 1, pantesan kayaknya belum begitu lama aku terakhir isi bensin….

Perjalanan kulanjutkan ke utara, hingga di Desa Banjarharjo turunlah hujan. Aku berhenti sebentar untuk memakai celana anti air, sedangkan jaket yang kupakai kebetulan sudah anti air. Di situ adzan subuh mulai terdengar. Akupun melanjutkan perjalanan ke utara sambil mencari masjid di pinggir jalan. Aku agak ragu dengan jalan masuk yang kutemukan, karena tanpa penunjuk arah ke Suroloyo ataupun embung Banjaroya. Akupun mendengar adzan cukup keras dari masjid kecil di timur jalan. Aku bergegas ke masjid itu untuk sholat subuh.

Sesudah itu akupun beranjak melanjutkan perjalanan. Kuamati kembali pertigaan itu dan akupun membaca tulisan Rest Area Bendo ….. yap. berarti benar jalan ini. Aneh sekali kenapa tidak ada penunjuk jalan padahal merupakan obyek wisata utama di Kulon Progo.

Sunrise di Banjaroya
Pagi di Banjaroya

Jalanan mulai naik-naik, akupun terus mengikuti jalan sambil mencari figur “durian” yang menjadi ciri khas embung tersebut di kiri jalan. Sampai suatu ketika aku sampai di jalan yang cukup menanjak lalu menurun, setelah kupikir-pikir tidak mungkin embungnya ada di sini. Akupun membuka GPS di HP dan menemukan bahwasanya aku memang kebablasan kurang lebih 3 Km. Salahnya kemarin gak sempat lihat peta dulu. Padahal embungnya itu hanya 3 Km dari jalan utama Sentolo-Muntilan tadi. Akupun segera berbalik arah dan menemukan tempatnya… ha ha ha … Tadi gelap sih, jadi duriannya gak kelihatan.

Segera aku keluarkan gear untuk memfoto sunrise di situ. Aku tak sempat mensurvey lokasi, jadi ya kira-kira saja. Yang penting sunrise nampak dan embung juga nampak. Jam 5.25 jepretan pertamaku kuning jingga sudah menghiasi ufuk timur. Ah, mau ndadak kebablasen barang sih … Di situ sudah ada beberapa orang yang ingin menikmati sunrise juga.

Sunrise banjaroya
Teman-teman datang pas ketika mentari terbit

Hingga berangsur-angsur mentaripun nampak. Di sinilah saatnya fotografer harus memilih untuk menikmati keindahannya dengan mata ataukah merekamnya di kamera. Pelangipun nampak di sebelah barat, tapi kuabaikan karena aku fokus merekam matahari terbit. Sekitar jam 6 kurang seperempat teman-temanku datang, ada Noel, Diah dan Isa. Akupun terus memuaskan diri mengabadikan sunrise hingga mentari kembali tenggelam di balik awan.

Aku
Sunrise dan Gunung Lawu di kejauhan

Kamipun bergeser ke sebelah timur untuk mendapatkan view pemandangan yang lebih leluasa. Di sini kamipun berfoto dengan berbagai gaya.

full team
Full team dilatarbelakangi Gunung Merapi dan Gunung Merbabu

Jam 6.25 barulah si Iwan muncul…. katanya dia harus mandi dulu. Jadinya tadi ditinggal oleh Noel. Jam segini mah suasana sudah terang benderang.

bungalow di banjaroya
Ada bungalow di kawasan Embung Banjaroya
embung
Embung berlatar belakang Pegunungan Menoreh

Dari waduk mini Banjaroya ini kita bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, juga Gunung Ungaran membentuk jajaran di sebelah timur hingga di utara. Di sebelah timur hingga tenggara nampak lembah membentang yang merupakan daerah Sleman dilatarbelakangi oleh Gunung Lawu di kejauhan. Pegunungan menoreh mengisi bentang di sebelah barat laut hingga selatan.

Seperti embung berlapis plastik lainnya, embung ini juga digunakan untuk menampung air hujan di musim penghujan yang kemudian digunakan untuk mengairi kebun buah yang ada di bawahnya di musim kemarau. Dengan kapasitas hingga 10.000 meter kubik air, embung itu diharapkan mampu mengairi kebun buah seluas 30 hektar.

Prewedding di banjaroya
Digunakan untuk photo session

Dengan pemandangan yang bagus itu, tempat ini bisa dipilih untuk menjadi spot foto prewedding.

durian menoreh kuning
“Durian” menoreh kuning sebagai simbol dari embung Banjaroya.
gerbang banjaroya
Gapura masuk Embung Banjaroya. Tulisannya sudah pudar.

Sudah lewat dari jam tujuh, rasanya masih terlalu pagi untuk langsung kembali pulang. Kamipun memutuskan untuk menuju curug di dekat situ yaitu Curug Sidoharjo, karena puncak Suroloyo sudah terlalu mainstream 😀 …. perjalanan kami bisa diikuti di cerita selanjutnya …

Rute Menuju Lokasi Waduk Mini Banjaroya

Waduk mini Banjaroya berada di Tonogoro, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, DIY. Berjarak kurang lebih 38 Km dari titik nol Yogyakarta jika ditempuh melalui jalan Godean melalui Kenteng, Nanggulan

Kota Yogya ke barat melalui jalan Godean – (20 Km) – Perempatan Kenteng, Nanggulan belok ke kanan (utara) – (±5 Km) – Perempatan Dekso terus (utara) – (±10 Km) – Rest Area Bendo belok kiri (barat) – 3 Km – Waduk Mini Banjaroya berada di kiri jalan.

Jika menggunakan rute Minggir – Dekso melalui Jembatan Kreo maka jaraknya sekitar 35 Km, tapi banyak simpangan, jadi harus orang yang paham jalan.

Koordinat:

Waduk Mini Banjaroya :  -7.658986°,110.234997°

Bike Camping Pantai Selatan Bantul

22 September 2015 aku berniat untuk Camping di Pantai. Pantai yang menjadi tujuanku ini berada di sebelah barat pantai Goa Cemara, tepatnya di perbatasan antara kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan Bantul. Aku pilih tempat itu karena sepi tidak ada bangunan dan cukup ideal untuk membangun tenda karena teduh oleh pohon cemara.

Perjalanan kali ini dimulai siang hari, meskipun sebenarnya rencana berangkat pagi. Hari itu ada beberapa hal yang mesti diurus dulu, dan ketika sudah siap berangkat ternyata aku menemukan bahwa frame di bagian bawah jok sepeda hampir patah sehingga harus dilas dulu. Sekitar setengah dua siang aku mulai berangkat ke timur menuju jalan kaliurang. tak lupa mampir dulu ke JNE candi lalu ke selatan menyusuri jalan kaliurang dan mampir juga ke Kantor Pos Dayu untuk kirim paket. kemudian kuarahkan sepedaku melalui jalan Monjali. aku berniat membelah kota.

sepeda dan tugu jogja
Berfoto di tugu pal putih Jogja

Ketika sampai tugu kuberanikan diri untuk mengambil foto. maklum aku belum pernah foto di sini dengan sepedaku. bahkan setelah diingat-ingat aku terakhir berfoto disini sebelum era camera digital, waktu area tugu belum dipercantik, waktu belum menjadi arena foto2 banyak orang … ha ha ha… setelah itu aku terus ke selatan menyusuri Jl Mangkubumi.

di depan stasiun tugu
Menunggu kereta lewat

Berhenti sejenak di perlintasan kereta untuk sekedar foto dan melihat kereta yang melintas. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl Malioboro dan Jl A. Yani. Baru kali ini aku menyusuri malioboro bersepeda recumbent … waah nikmatnya… 😀

di sekitar nol kilometer
Orang-orangpun gumun

Dari titik nol aku ke kanan menuju Ngabean lalu berbelok ke kiri hingga ketemu jalan Bantul. Di jalan bantul tinggal lurus saja ke selatan…

istirahat sejenak
Sudah sore

Sekitar jam 4 sore aku sampai di sekitar kota bantul, niat untuk foto-foto di alun-alun bantul aku urungkan karena hari sudah sore, takut gak bisa nyunset di pantai. Hampir jam 5 sore akupun belum sampai di wilayah kecamatan Sanden.

aku dan tenggelamnya mentari
Menikmati tenggelamnya mentari …. jika saja bersamamu

Niat hati ingin bisa mengejar sunset di pantai namun apa daya. sekitar 5 km dari pantai tujuan waktu sudah lewat dari pukul 5 sore. Mentari sudah hampir tenggelam jika dikalkulasi takkan cukup waktu untuk mengabadikan sunset di pantai. Di bulak sebelum jembatan merah itulah aku menghentikan sepedaku untuk berfoto dalam suasana sunset.

Setelah mentari benar-benar tenggelam perjalanan kulanjutkan. Di dusun Karanganyar, Sanden aku mampir di masjid untuk solat maghrib dan mengisi air untuk bekal nanti memasak. Perjalananpun dilalui dalam gulita. Aku menuju arah Pantai Pandansari, lalu berbelok ke barat ke arah Pantai Goa Cemara, di situ aku masih ke barat hingga aku sampai di perempatan. Dulu sebelum JJLS dibangun ini merupakan pertigaan, sedangkan jalan yang ke barat merupakan jalan yang baru. Dari perempatan ini belok ke selatan lurus saja hingga keluar dari jalan aspal dan sampailah aku di pantai yang kutuju. Aku tak tahu ini namanya pantai apa, sepertinya memang tidak dinamai. aku dulu pertama ke sini sebelum ada istilah Pantai Goa Cemara, hanya ada Pandansari di sebelah timur dan Pandansimo di sebelah barat.

memasak air
Memasak sebelum tidur

Pantainya sangat lengang…. hanya ada suara angin, ranting cemara yang saling beradu dan deburan ombak pantai selatan. benar-benar sepi tak ada orang ataupun bangunan, cukup menakutkan memang. Di spot yang cukup ideal kudirikan tenda. sesudah itu memasak untuk makan dan minum. ketika malam sudah cukup akhirnya akupun merebahkan diri untuk istirahat.

sarapan sendiri
Sarapan dengan macaroni dan secangkir kopi panas
sepedaku menggapai ujung selatan
the Lone rider

Pagi sebelum mentari terbit kusempatkan berfoto sekitar tenda sambil memasak sarapan. Setelah selesai sarapan aku pun menuju bibir pantai untuk memuaskan diri berfoto dengan sepedaku dan sunrise. Suasana pagi itu cukup hazy, di langit terdapat awan yang hampir merata sehingga menghalangi birunya langit. Titik-titik air asin terbawa angin menyebabkan suasana layaknya kabut tipis, cukup menghalangi kamera untuk merekam dengan jelas. Saat itu ada beberapa orang datang menikmati sunrise di pantai itu juga.

jalan srandakan
Sampai di jalan Raya Srandakan

Setelah berkemas akupun mulai beranjak dari lokasi tersebut sekitar jam 8 pagi. dari pantai aku telusuri jalan ke utara melalui Sorobayan lalu Kuroboyo dan bertemu jalan Srandakan. Sambil clingak-clinguk kanan kiri mencari warung karena sarapanku tadi hanya sedikit, belum kenyang. Namun warung masih pada tutup, mungkin karena sebagian orang sudah berhari raya kurban hari itu. Dari dusun Cengkiran aku berbelok ke kiri, keluar dari jalan utama karena berniat melalui daerah Selarong. Sampai di pasar Pijenan, Pandak berniat mencari makan tapi lagi-lagi warung mi-ayam bakso di situ tutup. lanjut saja ke utara sambil terus mencari warung. Sekitar jam 9 lebih akhirnya aku dapati sebuah warung mi ayam dan makanlah aku di situ.

di depan lapas pajangan
Di depan Lapas Pajangan Bantul
di depan goa selarong
Melewati wilayah Selarong

Perjalanan pulang dilanjutkan menyusuri jalan menuju Selarong. Di tanjakan yang sangat curam akupun terpaksa mendorong sepedaku karena tak mungkin untuk mengayuhnya lagi.

panas terik di kasihan
Panas teriknya siang itu
menikmati es dung dung dikala terik
Dua cup es Dung Dung merupakan delicacy di teriknya siang ini

Dari Selarong perjalanan dilanjutkan ke utara melalui Tamantirto – Banyuraden – Jl Kabupaten – Denggung – Tlacap – Nyamplung- Rejodani hingga akhirnya sampai Pencarsari. dan hari itu cuaca sangat panasssss …. It was a hot hot day!

Koordinat:

Pantai tempat camping : -7.996240, 110.241738

Lapas Pajangan :  -7.881293, 110.307464

Gapura Goa Selarong :  -7.864036, 110.318423