Menengok Pesona Telaga Biru Semin

Tiba-tiba saja foto-foto Telaga Biru Semin bertebaran di timeline. Tempat ini diklaim mirip Raja Ampat (ah, tenane?) ataupun mirip telaga warna dieng (kalau ini lebih make sense). Akupun tergerak untuk ke sana juga. Hari itu (4 Feb 2016) akupun memantapkan diri pergi ke sana.

Kupat Tahu
Seporsi Kupat Tahu yang Nikmat

Diawali dengan mengisi perut dengan seporsi kupat tahu di dekat buk bengkong Jakal km 12,5. Setelah melahap lezatnya makan siangku akupun beranjak menyusuri Jalan Jangkang. Waktu menunjukkan hampir jam dua siang. Kususuri jalan itu hingga berganti provinsi, Jawa Tengah. Di pertigaan Manisrenggo aku mengambil jalan ke kanan menuju arah Prambanan, lalu belok kiri di pertigaan mengikuti jalan truk pasir. Jalan ini sudah dicor semen sepertinya untuk mengimbangi beban truk pasir yang demikian hebatnya. Namun aku keliru, ternyata belum semua dicor sehingga jalannya justru rusak parahhhhh!! nggronjal abis. Mana kaca helemku agak longgar, jadi tiap ada gronjalan kaca langsung otomatis nutup. Kalo kacanya kinclong sih gapapa, lha ini sudah burem baret-baret jadi pandangan agak terganggu kalau ditutup. Tiap gronjal jeglek nutup, trus buka lagi, nutup lagi … begitu terus… hedeh! kepala udah dimiringkan untuk mengurangi efek otomatis nutup.. tetepp ajah nutup sendiri… wkwkwkwk

Singkat cerita, setelah melalui beberapa kelokan dan entah berapa gronjalan sampai juga aku di Jalan Jogja-Solo. Belalang tempur kuarahkan ke timur melalui Pabrik Gula Gondang, lalu sesampainya di pertigaan Bendogantungan akupun berbelok ke kanan menuju Wedi.

Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya
Banyak pengendara motor yg berhenti tidak pada tempatnya

Terhenti sebentar di persimpangan kereta api karena ada kereta api prameks yang lewat. Heran dengan para pengguna motor, banyak yang tidak taat aturan dengan menunggu di lajur kanan. Setelah melewati pasar Wedi, terlihat Masjid Agung Wedi, dari sini akupun berbelok ke kiri ke arah timur menuju Bayat.

sawah
Persawahan di Wedi Klaten

Di tepi jalan akupun berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sawah dan pegunungan di kejauhan. Setelah itu perjalanan aku teruskan melewati Bayat hingga sampailah ke Cawas.

Pertigaan Cawas
Pertigaan Cawas

Dari pertigaan Cawas ambil ke kanan, sesuai dengan petunjuk arah Gunung Kidul dan Wonogiri.

Pertigaan Bulu Cawas
Di Pertigaan Bulu, Nanggulan, Cawas. Ke kanan menuju pusat Kecamatan Semin lurus menuju Watukelir dan Wonogiri.

Hingga sampai pertigaan Nglengkong akupun mengambil jalan ke kiri ke arah timur, karena jika lurus akan mengarah ke Ngawen. Lalu sampai pada pertigaan Bulu. Dari sini jangan menuju Semin, karena jika kita akan ke Telaga Biru tapi di sini belok ke kanan maka justru akan jauh memutar dan naik turun gunung. Meskipun sama-sama di kecamatan Semin, justru ambillah arah lurus ke timur (menuju Wonogiri) karena merupakan jalan paling dekat dan tidak pakai naik gunung dulu, Telaga Biru berada di ujung Timur Laut dari kecamatan Semin.

pertigaan krendetan
Pertigaan Krendetan

Hingga sekitar 6 kilometer ke timur sampailah di Krendetan, ada pertigaan dengan tugu tulisan Rilex belok ke kanan.

Jalan Masuk
Jalan masuk mirip simpang lima.

Tidak sampai satu kilometer ke selatan sampailah di pintu masuk dusung Ngentak, tepat di jalan yang menikung ke kanan. Di gapura ini sudah dipajang spanduk besar penunjuk arah menuju Telaga Biru. Kita bisa masuk melewati dusun Karangjoho yang jalannya sudah cor beton (gapura warna hijau), tapi boleh juga mengikuti penunjuk arah dusun Ngentak (gapura warna biru) karena pas langsung ke parkiran meskipun jalannya masih berbatu.

Gapura Ngentak
Gapura Dusun Ngentak
parkiran
Parkiran Telaga Biru

Akupun menyusuri jalan berbatu itu, lalu belok kiri dan langsung disambut oleh mas-mas petugas parkir dari Karang Taruna dusun Ngentak. Jam 4 sore aku sampai di parkiran.

plang
Plang di dekat parkiran

Dari parkiran akupun berjalan mengikuti petunjuk arah. Tidak berapa jauh sampailah aku di lokasi puncak telaga biru.

IMG_8019

Dan WOW di sinilah aku melihat pemandangan yang elok. Dan tempat ini sungguh ramai oleh para muda-mudi membawa tongkat swafoto. Tak ada satu frame yang bisa diambil tanpa ada orang.

bermain air di telaga biru
Bisa bermain air

Di bawah sana banyak orang bermain air. Ada yang menggunakan gethek (rakit bambu) ada pula yang memakai perahu karet berwujud kuda sembrani ada yang cuma nyebur aja renang gak jelas.

di puncak
Menunggu surya tenggelam
Diselingi rintik hujan
Diselingi rintik hujan

Puncak ini menghadap ke barat sehingga sunset akan jelas terlihat jika memang sunset terlihat. Di sisi barat hingga selatan nampak pegunungan Gunungkidul dengan puncak Tugu Magir-nya yang cukup jelas terlihat. Di sebelah barat laut jika cuaca cerah akan nampak Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, namun sayang kali ini aku hanya melihatnya sesekali mengintip dari balik awan.

hati-hati
Berhati-hati jika di tepian
Banyak juga yang berfoto di tepi telaga

Akupun berfoto dengan berbagai gaya. Namun harus tetap hati-hati. Untungnya aku masih bisa merasa singunen jadi cukup aman …. he he he

tambang
Tambang batu gamping masih aktif
batu gamping
Bongkahan batu gamping siap diangkut

Telaga yang terbentuk merupakan sisa penambangan batu gamping. Pada suatu waktu air terperangkap di sana hingga terbentuklah telaga. Tempat ini masih aktif ditambang, jadi jangan heran jika nantinya kamu akan mendapati tempat ini akan berubah bentuknya.

ujung jurang
Cocok untuk berkontemplasi

Cukup lama aku di sini, rasanya tidak ingin pulang saja. Tempat ini mengingatkanku akan bukit kapur di sekitaran Trimulyo, Jetis, Bantul karena suasananya yang mirip, hanya saja di sana belum terbentuk telaga di bawah. Dan pikirankupun melayang kala masih bahagia bersamanya menikmati tenggelamnya mentari di sana …… ssssssssssst … hapuskan dari pikiran!

Suasananya yang mendung membuat langit kurang menarik untuk dijepret. Jikalau musim kemarau pasti mentari akan terlihat lebih cantik. Namun entah jika musim kemarau apakah telaganya mengering atau tidak.

Hingga waktu terus bergulir, tak terasa waktu sudah jam enam kurang seperempat. Meskipun mentari belum tenggelam namun sunset sepertinya tak mungkin terlihat dengan bagus akupun beranjak pulang. Di parkiran sempat-sempatnya mas-nya penjaga parkir bertanya, “Kok sendirian mas?” Akupun menjawab sekenanya, “Nggak ada temennya!” Which is obvious :p

Motor kukendarai pulang. Hujanpun mengguyur meskipun tidak begitu deras. Perutpun lapar dan aku mampir di Cawas untuk makan.

Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci
Menikmati Nila Bakar dan Teh Poci

Nila bakar dan teh poci sungguh sempurna suasana dan rasanya. Akupun disapa seseorang mas-mas yang tertarik dengan kameraku. Kamipun ngobrol dan ternyata dia bekerja di sebuah bank pemerintah di Papua dan kebetulan sedang mudik. Diapun asyik menceritakan kisahnya dan akupun tak sengaja menceritakan kisahku juga. Nila tinggal tulang-belulang dan teh di poci-pun sudah kosong dan akupun kemudian pulang membawa kenangan …….

Rute Menuju Lokasi Telaga Biru Semin

Telaga biru semin berada di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Semin, Gunungkidul. Untuk mencapainya dari Kota jogja ada beberapa jalur yang bisa dipilih.

Via Cawas: ±57 km

Kota Jogja – Jalan Solo – Prambanan – Wedi – Bayat – Cawas – Nanggulan – Krendetan – Ngentak.
Jalan datar mulus, ada sedikit jalan rusak ringan di jalan kabupaten. Melalui jalan negara (Jogja-Solo), Jalan Kabupaten (Wedi-Cawas) dan Jalan Provinsi (Cawas – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Nglipar: ±61 Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Nglipar – Ngawen – Semin – Krajan – Ngentak.
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Sambipitu – gapura masuk dusun Ngentak).

Via Wonosari : ±69Km

Kota Jogja – Jalan Wonosari – Piyungan – Patuk – Sambipitu – Wonosari – Karangmojo – Semin – Krajan – Ngentak
Jalan datar dan banyak naik turun mulus, Melalui jalan negara (Jogja-Wonosari) dan Jalan Provinsi (Wonosari – gapura masuk dusun Ngentak).

Koordinat:

Parkiran Telaga Biru: -7.813966°,110.765601°

Pertigaan Cawas: -7.763007°,110.698378°

Bike Camping Pantai Selatan Bantul

22 September 2015 aku berniat untuk Camping di Pantai. Pantai yang menjadi tujuanku ini berada di sebelah barat pantai Goa Cemara, tepatnya di perbatasan antara kecamatan Sanden dan Kecamatan Srandakan Bantul. Aku pilih tempat itu karena sepi tidak ada bangunan dan cukup ideal untuk membangun tenda karena teduh oleh pohon cemara.

Perjalanan kali ini dimulai siang hari, meskipun sebenarnya rencana berangkat pagi. Hari itu ada beberapa hal yang mesti diurus dulu, dan ketika sudah siap berangkat ternyata aku menemukan bahwa frame di bagian bawah jok sepeda hampir patah sehingga harus dilas dulu. Sekitar setengah dua siang aku mulai berangkat ke timur menuju jalan kaliurang. tak lupa mampir dulu ke JNE candi lalu ke selatan menyusuri jalan kaliurang dan mampir juga ke Kantor Pos Dayu untuk kirim paket. kemudian kuarahkan sepedaku melalui jalan Monjali. aku berniat membelah kota.

sepeda dan tugu jogja
Berfoto di tugu pal putih Jogja

Ketika sampai tugu kuberanikan diri untuk mengambil foto. maklum aku belum pernah foto di sini dengan sepedaku. bahkan setelah diingat-ingat aku terakhir berfoto disini sebelum era camera digital, waktu area tugu belum dipercantik, waktu belum menjadi arena foto2 banyak orang … ha ha ha… setelah itu aku terus ke selatan menyusuri Jl Mangkubumi.

di depan stasiun tugu
Menunggu kereta lewat

Berhenti sejenak di perlintasan kereta untuk sekedar foto dan melihat kereta yang melintas. Kemudian akupun melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl Malioboro dan Jl A. Yani. Baru kali ini aku menyusuri malioboro bersepeda recumbent … waah nikmatnya… 😀

di sekitar nol kilometer
Orang-orangpun gumun

Dari titik nol aku ke kanan menuju Ngabean lalu berbelok ke kiri hingga ketemu jalan Bantul. Di jalan bantul tinggal lurus saja ke selatan…

istirahat sejenak
Sudah sore

Sekitar jam 4 sore aku sampai di sekitar kota bantul, niat untuk foto-foto di alun-alun bantul aku urungkan karena hari sudah sore, takut gak bisa nyunset di pantai. Hampir jam 5 sore akupun belum sampai di wilayah kecamatan Sanden.

aku dan tenggelamnya mentari
Menikmati tenggelamnya mentari …. jika saja bersamamu

Niat hati ingin bisa mengejar sunset di pantai namun apa daya. sekitar 5 km dari pantai tujuan waktu sudah lewat dari pukul 5 sore. Mentari sudah hampir tenggelam jika dikalkulasi takkan cukup waktu untuk mengabadikan sunset di pantai. Di bulak sebelum jembatan merah itulah aku menghentikan sepedaku untuk berfoto dalam suasana sunset.

Setelah mentari benar-benar tenggelam perjalanan kulanjutkan. Di dusun Karanganyar, Sanden aku mampir di masjid untuk solat maghrib dan mengisi air untuk bekal nanti memasak. Perjalananpun dilalui dalam gulita. Aku menuju arah Pantai Pandansari, lalu berbelok ke barat ke arah Pantai Goa Cemara, di situ aku masih ke barat hingga aku sampai di perempatan. Dulu sebelum JJLS dibangun ini merupakan pertigaan, sedangkan jalan yang ke barat merupakan jalan yang baru. Dari perempatan ini belok ke selatan lurus saja hingga keluar dari jalan aspal dan sampailah aku di pantai yang kutuju. Aku tak tahu ini namanya pantai apa, sepertinya memang tidak dinamai. aku dulu pertama ke sini sebelum ada istilah Pantai Goa Cemara, hanya ada Pandansari di sebelah timur dan Pandansimo di sebelah barat.

memasak air
Memasak sebelum tidur

Pantainya sangat lengang…. hanya ada suara angin, ranting cemara yang saling beradu dan deburan ombak pantai selatan. benar-benar sepi tak ada orang ataupun bangunan, cukup menakutkan memang. Di spot yang cukup ideal kudirikan tenda. sesudah itu memasak untuk makan dan minum. ketika malam sudah cukup akhirnya akupun merebahkan diri untuk istirahat.

sarapan sendiri
Sarapan dengan macaroni dan secangkir kopi panas
sepedaku menggapai ujung selatan
the Lone rider

Pagi sebelum mentari terbit kusempatkan berfoto sekitar tenda sambil memasak sarapan. Setelah selesai sarapan aku pun menuju bibir pantai untuk memuaskan diri berfoto dengan sepedaku dan sunrise. Suasana pagi itu cukup hazy, di langit terdapat awan yang hampir merata sehingga menghalangi birunya langit. Titik-titik air asin terbawa angin menyebabkan suasana layaknya kabut tipis, cukup menghalangi kamera untuk merekam dengan jelas. Saat itu ada beberapa orang datang menikmati sunrise di pantai itu juga.

jalan srandakan
Sampai di jalan Raya Srandakan

Setelah berkemas akupun mulai beranjak dari lokasi tersebut sekitar jam 8 pagi. dari pantai aku telusuri jalan ke utara melalui Sorobayan lalu Kuroboyo dan bertemu jalan Srandakan. Sambil clingak-clinguk kanan kiri mencari warung karena sarapanku tadi hanya sedikit, belum kenyang. Namun warung masih pada tutup, mungkin karena sebagian orang sudah berhari raya kurban hari itu. Dari dusun Cengkiran aku berbelok ke kiri, keluar dari jalan utama karena berniat melalui daerah Selarong. Sampai di pasar Pijenan, Pandak berniat mencari makan tapi lagi-lagi warung mi-ayam bakso di situ tutup. lanjut saja ke utara sambil terus mencari warung. Sekitar jam 9 lebih akhirnya aku dapati sebuah warung mi ayam dan makanlah aku di situ.

di depan lapas pajangan
Di depan Lapas Pajangan Bantul
di depan goa selarong
Melewati wilayah Selarong

Perjalanan pulang dilanjutkan menyusuri jalan menuju Selarong. Di tanjakan yang sangat curam akupun terpaksa mendorong sepedaku karena tak mungkin untuk mengayuhnya lagi.

panas terik di kasihan
Panas teriknya siang itu
menikmati es dung dung dikala terik
Dua cup es Dung Dung merupakan delicacy di teriknya siang ini

Dari Selarong perjalanan dilanjutkan ke utara melalui Tamantirto – Banyuraden – Jl Kabupaten – Denggung – Tlacap – Nyamplung- Rejodani hingga akhirnya sampai Pencarsari. dan hari itu cuaca sangat panasssss …. It was a hot hot day!

Koordinat:

Pantai tempat camping : -7.996240, 110.241738

Lapas Pajangan :  -7.881293, 110.307464

Gapura Goa Selarong :  -7.864036, 110.318423